Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jumlah BPA di Campuran Polikarbonat Sangat Kecil: Ahli Polimer Jerman Sebut Tidak Ada Migrasi BPA yang Berbahaya, Ini Penjelasannya

Winda Atika Ira Puspita • Jumat, 30 Agustus 2024 | 17:19 WIB
Ilustrasi galon air minum dalam kemasan.
Ilustrasi galon air minum dalam kemasan.

RADAR JOGJA - Seorang ahli polimer jebolan University of Applied Science Darmstadt, Jerman Oka Tan menyatakan, jumlah Bisfenol A (BPA) dalam campuran pembuatan kemasan Polikarbonat, termasuk galon, sangat kecil.

Menurutnya, BPA hanya akan bermigrasi jika galon tersebut meleleh, yang sangat jarang terjadi mengingat kekuatan dan ketahanan panas Polikarbonat.

"Unsur BPA itu jumlahnya sangat sedikit pada barang jadinya. Jadi, tidak mungkin Polikarbonat itu melepas BPA dalam jumlah yang sangat besar,” ujar Oka baru-baru ini.

Oka menjelaskan, kemasan Polikarbonat ini tidak akan mengalami migrasi BPA saat terkena benturan, gesekan, atau paparan sinar matahari.

Polikarbonat mampu menahan panas hingga lebih dari 200 derajat Celsius, sehingga kemungkinan galon meleleh sangatlah kecil.

"Jika terjadi gesekan selama distribusi, hanya bagian luar yang terpengaruh, bukan bagian dalam yang menyimpan air, jadi tidak mungkin terjadi migrasi BPA ke dalam airnya. Orang mungkin berpikiran pada saat bergesekan akan terjadi bagian luarnya pecah sehingga mikroplastiknya keluar, tapi sampai sekarang itu juga belum terbukti," jelasnya.

Dia juga menanggapi pandangan Profesor ahli farmakologi Junaidi Khotib dari Universitas Airlangga, yang menyebutkan kemungkinan jumlah ambang batas aman itu berubah. 

Jumlah BPA yang bermigrasi dari polimer polikarbonat sangat tergantung oleh tingkat keasaman cairan, suhu penyimpanan (distribusi dan penyimpanan retail), dan paparan sinar matahari.

Namun, Oka menegaskan bahwa BPA tidak akan bermigrasi kecuali kemasannya meleleh.

Menurutnya, sebelum digunakan untuk minuman, galon Polikarbonat itu dianeling terlebih dahulu atau proses dipanaskan lagi, agar lebih kuat.

“Makanya orang suka pakai Polikarbonat ini karena dia tahan banting,” terangnya.

Dia mengakui bahwa BPA bisa menyebabkan perubahan kromosom, namun risiko ini sangat rendah dalam penggunaan galon.

"Tapi, dalam kasus sudah dijadikan galon itu sangat aman dan sudah diteliti baik di Eropa, Amerika, dan negara lainnya. Jika berbahaya, mereka juga kan seharusnya sudah melarang jauh-jauh sebelumnya," tambahnya.

Dia menduga bahwa isu-isu seputar BPA sering dihembuskan karena adanya unsur persaingan bisnis.

"Di semua negara, belum ada kasus migrasi BPA dari kemasan Polikarbonat yang melebihi ambang batas aman yang ditetapkan negaranya. Semua masih di bawah limit," imbuhnya. 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#bpa #Jumlah BPA #Migrasi BPA #Galon #campuran polikarbonat #Kemasan Polikarbonat #ahli polimer Jerman #bisfenol A