RADAR JOGJA - Belakangan ini, isu mengenai potensi Gempa Megathrust kembali mencuat ke permukaan, menarik perhatian masyarakat luas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, bahwa kejadian tersebut tinggal menunggu waktu.
Meskipun topik ini bukan hal baru, perhatian terhadapnya kembali meningkat, terutama setelah kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan, diskusi mengenai potensi gempa ini sudah ada sejak sebelum tsunami Aceh 2004.
Wilayah pesisir selatan pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), semuanya berada dalam Zona Megathrust, yang meningkatkan potensi terjadinya gempa besar dan tsunami.
Mengapa wilayah ini begitu rawan? Berikut penjelasannya.
Rawan Terjadi Gempa Bumi
Wilayah pesisir selatan Jawa, termasuk Jawa Tengah dan Yogyakarta, memang dikenal sebagai daerah rawan gempa bumi.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa antara tahun 1840 hingga 2006, zona selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta sudah beberapa kali mengalami gempa bumi yang merusak.
Salah satu kejadian terbaru adalah gempa bumi pada 27 Mei 2006 dengan Magnitudo 6,4, yang mengakibatkan lebih dari 5.000 korban jiwa.
Yogyakarta khususnya, memiliki sejarah panjang dalam menghadapi kerusakan akibat gempa bumi. Pada 10 Juni 1867, gempa bumi di Bantul menyebabkan ribuan rumah rusak dan 500 orang meninggal.
Gempa bumi pada 23 Juni 2023 juga berdampak signifikan, merusak 15.275 rumah dan menewaskan lebih dari 213 orang.
Rawan Tsunami
Selain gempa bumi, kawasan pesisir pantai Jawa juga rawan tsunami. Data dari BMKG menunjukkan bahwa pesisir selatan Jawa sudah beberapa kali dilanda tsunami dengan ketinggian bervariasi, termasuk pada tahun 1840, 1859, 1921, 1930, 1957, 1994, dan 2006.
Simulasi tsunami di zona subduksi selatan Jawa dengan menggunakan Software TOAST BMKG menunjukkan potensi tsunami yang sangat signifikan.
Dengan model pembangkit gempa bumi Magnitudo 8,2 dan kedalaman 20 km di Zona Megathrust, ketinggian tsunami di pantai selatan Yogyakarta dapat mencapai 9 meter.
Tsunami ini diperkirakan akan tiba di pesisir selatan Jawa sekitar 30 menit setelah terjadinya gempa.
Alat Pendeteksi Gempa dan Tsunami
Menanggapi ancaman ini, BMKG telah meningkatkan peranannya dalam mitigasi gempa dan tsunami.
Sejak 2014, BMKG telah mengoperasikan sistem monitoring prekursor gempa bumi di Yogyakarta.
Sistem ini memantau gejala-gejala alam dan parameter fisik sebelum gempa terjadi, dengan fokus pada suhu bawah permukaan, muka air tanah, dan gas radon di stasiun-stasiun di Pundong dan Piyungan.
Selain itu, BMKG juga telah membangun dua sirine tsunami tipe monopole yang ditempatkan di Pantai Parangtritis.
Sirine ini akan menjadi sarana penting untuk perintah evakuasi bagi warga setempat jika terjadi ancaman tsunami.
Dengan peningkatan pemantauan dan sistem peringatan dini, diharapkan masyarakat bisa lebih siap menghadapi kemungkinan bencana ini dan mengambil langkah-langkah preventif untuk melindungi diri mereka.
Editor : Winda Atika Ira Puspita