JOGJA - Jogja Museum Expo 2024 kembali digelar di Museum Sonobudoyo Yogyakarta mulai tanggal 23 Juli - 5 Agustus 2024. 70 koleksi dari 42 museum di Yogyakarta akan didisplay di acara tersebut. Ada alat pengembangbiakan virus RS Dr YAP dari tahun 1900 dan buku kesehatan tahun 1700.
Kurator Museum Dr YAP Prawirohusodo, Retno Dian Saputra mengatakan alat kembang biak virus yang saat ini dipamerkan dalam tersebut sudah dimiliki RS Dr YAP sejak 1900. Alat tersebut dulunya dibeli RS Dr YAP dari Prancis.
"Digunakan untuk mengembangbiakkan virus sebagai langkah pertahanan dalam mencari solusi kemungkinan penyakit mata di RS Dr YAP," ujarnya saat ditemui di lokasi pameran, Selasa (23/7/2024).
Dr Yap Hoeng Tjoen menjadi dokter mata sekaligus pendiri rumah sakit dengan nama awal Prinses Juliana Gasthuls voor Ooglijder pada 1922. Ia kemudian membawa banyak alat kedokteran mata dan buku-buku dari luar negeri ke rumah sakit tersebut.
"Alat pengembangbiakan virus ini salah satu alat kesehatan tertua yang sudah kita miliki untuk dalam pengobatan mata di jogja," tuturnya.
Ia menyebut terdapat sekitar 300 koleksi alat kesehatan khususnya mata yang dimiliki museum RS Dr YAP. Selain itu, sumber literasi seperti buku-buku kesehatan juga menjadi salah satu koleksi museum.
"Ada juga buku kesehatan berasal dari tahun 1700an," jelasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menyampaikan pameran tersebut menampilkan koleksi dari berbagai museum yang ada di Yogyakarta. Tema yang dipilih dalam acara tersebut yakni “Prajnyopada: Local Wisdom, Mosaic Of Us”. Tujuanya merekam berbagai unsur kearifan lokal sebagai keberagaman yang ada di sekitar.
"Total akan ada 70 koleksi dari 42 museum di Yogyakarta yang menjadi masterpiece sesuai tema di 3 ruang, dan satu ruang yang akan menampilkan 42 koleksi dari Shanghai," ujarnya.
JME 2024 dikonsep tidak hanya menampilkan wujud benda koleksi. Akan tetapi juga cerita-cerita dibalik benda, seperti gagasan-gagasan lokal yang bersifat kebijaksanaan, kearifan, serta nilai-nilai baik yang masih diyakini masyarakat sekarang.
"Intinya adalah Prajnyopada itu adalah kebijaksanaan lokal," tuturnya.
Jogja Museum Expo dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap museum. Ia berharap semua pihak terus mendukung upaya-upaya yang dilakukan untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya lokal.
"Semoga melalui expo ini, museum-museum di Yogyakarta semakin dikenal dan diminati oleh masyarakat luas, baik dari dalam maupun luar negeri," terangya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin