JOGJA - Membludaknya wisatawan saat libur lebaran di kawasan Malioboro Yogyakarta ternyata kurang berdampak pada peningkatan omzet pedagang.
Khususnya yang berjualan di lantai atas Teras Malioboro 1.
Bahkan banyak dari pedagang di lantai dua dan tiga yang memilih tutup toko saat libur panjang tahun ini.
Pantauan Radar Jogja pada Sabtu (13/4/2024) kawasan Malioboro sudah ramai sejak pagi.
Menjelang siang, wisatawan yang datang semakin memadati sejumlah titik di kawasan tersebut.
Contohnya di pedestrian dan Pasar Beringharjo.
Sebagian juga masuk ke pusat penjualan oleh-oleh Teras Malioboro 1.
Hanya saja, dari pengamatan Radar Jogja ada sejumlah toko di lantai dua dan tiga Teras Malioboro 1 yang tutup.
Salah satu pedagang pakaian di lantai dua yang masih buka bernama Buyung mengungkapkan, sejumlah pedagang di lantai atas Teras Malioboro 1 memang memilih tutup sejak hari kedua lebaran karena sepi pembeli.
Walaupun diakuinya ada peningkatan penjualan dibandingkan hari-hari biasa.
Buyung menyebut, selama libur lebaran ini wisatawan memang hanya ramai di lantai bawah.
Sementara untuk pertokoan di lantai dua dan tiga cenderung sepi lantaran jarang wisatawan yang ingin naik.
“Selama lebaran ini memang naik omzetnya, kalau hari biasa di bawah Rp 500 ribu sekarang ya Rp 500 sampai 1 juta. Tapi lantai atas ini tidak ada orang lewat, sehingga mulai lebaran hari kedua banyak pedagang tutup. Mungkin memilih mudik daripada menghabiskan waktu disini,” ujar Buyung saat ditemui.
Salah satu pedagang di lantai satu Teras Malioboro 1 bernama Winda mengungkap, selama libur lebaran ini jumlah pembeli yang datang di lantai bawah menurutnya memang cukup banyak.
Selama libur lebaran ini saja per hari dirinya mampu meraup pendapatan dari Rp 800 ribu sampai lebih Rp 1 juta rupiah dari penjualan oleh-oleh berupa dompet hingga gantungan kunci.
Menurut Winda, mayoritas pembeli di tokonya merupakan wisatawan luar kota.
Bahkan untuk ramainya pembeli terhitung sejak hari pertama lebaran atau sesudah pelaksanaan Salat Ied.
“Dari lebaran hari pertama sampai sekarang masih ramai, kemungkinan sampai berakhirnya cuti bersama,” ungkapnya.
Di kawasan Pasar Beringharjo, salah satu pedagang Karsilan membeberkan, penjualan baju batik memang cukup ramai.
Per hari dia mampu mendapatkan omzet dari Rp 2 juta sampai 3 juta.
Berbanding terbalik dibanding pada bulan puasa yang bahkan tidak ada pembeli di Pasar Beringharjo.
Meskipun demikian, menurut penjual lain bernama Danang, omzet selama libur lebaran ini belum bisa semaksimal seperti sebelum pandemi Covid-19.
Dikarenakan pada masa-masa sebelum pandemi para pedagang di Pasar Beringharjo bisa meraup pendapatan dari Rp 5 sampai 6 juta per hari ketika musim libur Hari Raya Idul Fitri.
“Penyebabnya karena setelah pandemi banyak yang jualan lewat online atau e-commerce, penurunannya sampai separo sekarang,” bebernya.