KULON PROGO - Dipenuhi sekitar 900 jemaah, Gereja Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates memperingati Wafat Yesus Kristus, Jumat (29/3).
Peringatan ini tak hanya dilakukan dengan beribadah di gereja. Namun, menghadirkan Visualisasi Kisah Kasih Sengsara Tuhan Yesus Kristus yang diperankan oleh kawula muda.
"Setelah pandemi, kami akhirnya bisa menghadirkan kembali visualisasi," ucap Pastor Gereja Paroki Santa Maria Bunda Penasihat Baik Wates Romo Aloysius Budi, saat ditemui Radar Jogja usai kegiatan dilangsungkan, Jumat (29/3).
Budi menjelaskan, sebelum pandemi visualisasi sudah sering dilakukan dalam memperingati hari-hari tertentu.
Namun, karena pandemi, pihaknya tak bisa melaksanakan kegiatan tersebut.
Sehingga usai pandemi, Budi mulai menyusun kegiatan visualisasi yang berbeda dari sebelumnya.
Menurut Budi, visualisasi di tahun ini memiliki perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya.
Ia mengungkapkan, terjadi penyesuaian skenario pada adegan sebelum penyaliban. Selain itu pakaian sebagian pemeran menggunakan baju adat jawa.
"Pemeran saksi yang memberatkan hukuman Yesus, berani melawan keputusan, untuk membantu Yesus," ucap Budi.
Lebih jelas, Budi menuturkan, adegan kesaksian pemberatan hukuman Yesus dilakukan penyesuainpenyesuaian.
Pemeran saksi yang di skenariokan untuk memberatkan hukuman Yesus justru membela Yesus. Ia mengakui mukjizat Yesus yang telah menyembuhkan kebutaannnya sejak lahir.
Budi menjelaskan, selain penyesuaian skenario. Terdapat perbedaan lainnya, yaitu penggunaan pakaian adat jawa di sebagian besar pemeran.
Sedangkan pemeran Yesus, Pilatus, dan Imam tetap menggunakan pakaian Yahudi.
Menurutnya, penggunaan pakaian adat diperlukan agar lebih kontekstual terhadap jamaah gereja yang berlatar belakang suku Jawa.
Menurutnya, persiapan penampilan visualisasi dilakukan sejak Januari, dan latihan pemeranan dilakukan setiap sore hari.
Untuk atribut dan pakaian yang digunakan pemeran, pihaknya tak perlu ambil pusing karena sudah ada di inventaris gereja.
"Diharapkan agar iman umat semakin bertumbuh usai menyaksikan visualisasi," ucap Budi.
Budi menjelaskan, kegiatan tersebut tak hanya diikuti oleh kawula muda.
Namun, diikuti berbagai usia, mulai dari anak kecil hingga orang tua. Dimaksudkan agar dapat memunculkan iman yang berjenjang.
Sementara itu, Cassadia Baraputra Praditya sebagai pemeran Yesus menjelaskan, dirinya tak merasa kesulitan dalam menjalankan visualisasi.
Kendati tak kesulitan, dirinya tak mau menggampangkan peran yang ia jalani. Sebelum pementasan, dirinya melakukan riset tentang perilaku Yesus dengan membaca buku.
Hal itu dimaksudkan agar bisa menghayati dan semakin menambah iman.
"Ada beban tersendiri, terlebih memerankan sebagai tokoh besar, sehingga harus persiapan," ucap Bara.
Bara menjelaskan, dirinya dan pemeran lainnya telah berusaha melatih setiap adegannya. Mereka membutuhkan waktu 3 bulan, dalam melatih.
Sedangkan untuk persiapan pakaian dirinya dibantu oleh pihak gereja yang menyiapkan segela perlengkapannya. (cr7)
Editor : Amin Surachmad