RADAR JOGJA - Guru Besar Purnatugas Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Djamaluddin ancok berpulang dalam usia 77 tahun. Djamaludin ditemukan meninggal di rumahnya di Jalan Anggek No 137 Sambilegi Kidul RT 05 RW 57 Maguwoharjo, Depok, Sleman Jumat (15/3) sekitar pukul 18.30 dan dimakamkan kemarin (16/3).
Kapolsek Depok Timur Kompol Masnoto, pada hari Jumat (15/3) sekitar pukul 18.15 ada salah satu saksi berinisial SHL (64) dihubungi oleh istri korban dari Jakarta melalui telepon. Saat itu istri korban meminta saksi untuk mengecek suaminya yang sedang berada di lokasi kejadian. "Istri korban itu menghubungi saksi karena korban tidak bisa dihubungi melalui telepon dan di CCTV tidak pernah kelihatan," katanya.
Saksi mengajak MDT yang merupakan ketua RT setempat dan saksi DYN yang merupakan adik ipar korban untuk mengecek. Namun pada saat ini pintu masih dalam keadaan terkunci. Kemudian sekitar pukul 18.30, mereka membongkar secara paksa pintu garasi dan pintu rumah korban. Setelah pintu terbuka, mendapati korban sudah dalam keadaan meninggal dunia dalam kondisi tergeletak di lantai kamar tamu dan sudah berbau.
Dari hasil pemeriksaan polisi, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang terjadi pada korban. Menurut pemeriksaan medis, korban diperkirakan sudah meninggal sejak dua sampai tiga hari. Di samping itu tidak ada barang milik korban yang hilang. Lalu selanjutnya korban pun dibawa ke RS Bhayakangkara Polda DIJ untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Anak pertama Djamaludin, Faizal Djamaludin Ancok mengatakan, meski tidak bisa setiap hari bertemu dengan sang bapak, ia selalu menjaga komunikasinya secara intensif. Dia bersama istri dan ibu di Jakarta, adiknya di Malaysia. “Jadi komunikasinya hanya bisa intens melalui telefon atau chat," katanya.
Faizal mengungkapkan, terakhir kali berkomunikasi dengan mendiang sang bapak pada Rabu (13/3) lalu. Sementara, untuk pertemuan secara langsung dengan sang bapak, Faizal mengaku sekitar 10 hari lalu bertemu di Jakarta.”Kalau ketemu itu sebulan sekali minimal pasti ketemu," sambungnya.
Faizal sendiri cukup menaruh kekhawatiran dan dari pantauan CCTV yang memang bisa diaksesnya. Menurutnya, pada Rabu sore, Djamaludin masih beraktivitas dengan membeli takjil di area depan rumahnya. “Setelah itu tidak ada lagi. Sampai akhirnya bapak meninggal," tuturnya.
Dikatakan, sebelum meninggal dunia Djamaludin juga tidak mengeluhkan adanya penyakit tertentu yang dideritanya kepada sang anak."Saya kaget juga, karena selama ini tidak ada keluhan sakit lain selain vertigo dan asam urat. Tapi kondisi fisiknya baik," ungkapnya.
Bahkan, Faizal menyampaikan di usianya yang sudah 77 tahun, Djamaludin masih bisa dan mampu untuk beraktivitas secara mandiri, dan terhitung cukup sehat untuk orang seusianya."Ya misalnya ke Jakarta sendiri, bapak itu masih bisa dan sehat. Jauh lebih sehat fisiknya malah dibandingkan ibu," bebernya.
Saat dikonfirmasi lebih lanjut terkait diagnosis penyebab meninggalnya Djamaludin, Faizal mengaku enggan mencari tahu lebih lanjut dan berusaha mengikhlaskan kepergiannya."Saya tidak tahu pasti penyebabnya, tapi mungkin mirip dengan adik saya yang meninggal mendadak juga 2018 silam," tandasnya.
Kepergian Guru Besar Fakultas Psikologi UGM Prof. Dr. Djamaludin Ancok menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak, termasuk para koleganya di Fakultas Psikologi UGM.
Salah satunya Prof Faturochman yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan almarhum, baik di lingkungan akademik maupun di ranah personal. Dia mengaku murid dalam arti yang sesungguhnya. Karena disertasinya dibimbing Djamaluddin. Lalu sebelum jadi dosen juga ditarik sebagai asisten. “Dari segi profesi dan personal itu sangat dekat," katanya.
Menurutnya, Djamaludin merupakan pribadi yang sangat terbuka dan ceplas-ceplos, namun juga memiliki respect yang tinggi kepada orang-orang. Djamaludin juga memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan dirinya hingga saat ini. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa Fatur merupakan anak emas Djamaludin.”Saya sebagai murid hanya ingin berbakti kepada guru saja," ungkapnya.
Fatur terakhir bertemu dengan almarhum sekira tiga minggu lalu dan telah merencanakan untuk kembali bertemu di momentum Ramadan kali ini."Lami makan-makan dan ngobrol cukup lama. Puasa ini sebenarnya berencana ketemu beliau lagi, untuk memberi buku saya yang baru rilis," sebutnya.
Meninggalnya Djamaludin merupakan kabar yang membuatnya cukup shock secara pribadi. Diakuinya ia sangat merasa kehilangan sosok kolega yang juga merupakan gurunya tersebut. “Beliau itu orang yang mumpuni dari segi keilmuan dan jadi acuan para dosen muda," ungkapnya.
Kolega lainnya yang juga pilu atas kepergian Djamaludin adalah Prof Koentjoro. Menurut Koentjoro, almarhum adalah kakak seniornya. Juga menjadi promotor S3 istrinya Dr. Budi Andayani.Koentjoro mengaku terakhir kali bertemu dengan Djamaludin yakni pertengahan Februari lalu, saat Djamaludin melayat istri Koentjoro.
Koentjoro mengungkapkan Djamal merupakan sosok yang terbuka dan ceplas-ceplos. Selain itu, ia berujar Djamal cukup flamboyan dan mudah bergaul."Kalau ngomong ceplas-ceplos dan tidak berjarak. Kalau orang yang mudah tersinggung mungkin sakit hatinya, tapi itu juga tidak diniatkan jahat," tandasnya. (iza/din)
SLEMAN - Pensiunan Guru Besar dari Fakultas Psikologi UGM Prof. Dr. Djamaludin Ancok ditemukan meninggal dunia pada hari Jumat (15/3) sekitar pukul 18.30. Pada saat itu Korban ditemukan meninggal dunia di rumahnya,.
(ayu).
Editor : Satria Pradika