Tak mengikuti penghitungan pemerintah, jamaah masjid Aolia melangsungkan ibadah puasa pada tanggal 7 Maret 2024 kemarin.
Penentuan awal Ramadhan jamaah masjid Aolia mengikuti arahan dari KH. Ibnu Raden Hajar Sholeh atau Mbah Benu.
Kepala Kantor Kemenag Gunungkidul Sa'aban Nuroni mengatakan, pihaknya telah menyambangi komplek masjid Aolia untuk tabayun mengenai pelaksanaan Ramadhan lebih awal.
"Kami sudah tabayun ke Mbah Benu, beliau menjelaskan penentuan Ramadhan berdasarkan keyakinannya," ujar Nuroni kepada awak media, Jumat (8/3).
Mengenai penentuan waktu Ramadhan dari Mbah Benu, kata Nuroni, pihaknya menghormati atau tidak menyalahkan ataupun menjelek-jelekkan.
"Karena sifatnya keyakinan, meskipun bagi kami masih mempertanyakan, karena beliau sudah meyakini, kami hanya menghormati," ucapnya.
Pihaknya juga akan mencari informasi yang lengkap mengenai penentuan waktu Ramadhan itu. Hal itu menurutnya diperlukan pengkajian oleh Kemenag Pusat.
Pihaknya juga mengetahui tentang penentuan Ramadhan Masjid Aolia selalu lebih awal dari perhitungan pemerintah.
Menurutnya, hampir setiap tahun Jamaah masjid Aolia lebih dulu melaksanakan ibadah puasa dibandingkan dengan pelaksanaan yang ditentukan pemerintah.
"Pelaksanaan ibadah puasa lebih awal dari jamaah masjid Aolia itu sudah lama kami tau, namun biasanya hanya selisih satu sampai dua hari, tapi sekarang lima hari," ucapnya.
Berdasarkan pengamatannya, perbedaan jamaah masji Aolia hanya terdapat pada waktu penentuan awal Ramadhan. Nuroni menjelaskan, perihal pelaksanaan sholat dan ibadah sama seperti pada umumnya.
"Kami tetap memakai standar menghormati dan menghargai perbedaan tersebut, masyarakat juga tidak ada yang mempermasalahkan itu," pungkasnya.
Editor : Bahana.