Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Suara Hilang 2.340, Mantan Komisioner KPI Protes ke KPU

Kusno S Utomo • Senin, 19 Februari 2024 | 13:20 WIB
S. Rahmat M. Arifin
S. Rahmat M. Arifin

RADAR JOGJA - Ini informasi sekaligus peringatan bagi calon anggota legislatif (caleg) yang berlaga pada Pemilu 2024. Ada baiknya suara yang Anda peroleh dari setiap tempat pemungutan suara (TPS) terus dikawal. Sebab, ada potesni suara yang terkumpul dari berbagai TPS “raib” di tengah jalan saat perjalanan menuju Komisi Pemilihan Umum (KPU).


Ada sejumlah contoh yang mengalami kejadian itu. Salah satunya seperti dialami calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) S. Rahmat M. Arifin. Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) periode 2016-2019 ini maju sebagai caleg Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan nomor urut 5.


Rahmat, sapaan akrabnya, memonitor suaranya melalui link pemilu2024.kpu.go.id/pilegdpr/hitung-suara/dapil/3401 pada Jumat 17 Februari 2024 pukul 14.56. Hasilnya, suara Rahmat terkumpul sebanyak 5.893 suara. Di internal partai, suara itu berada di urutan ketiga. Perolehan suara Rahmat berada di bawah Siti Hediati Soeharto 61.586 dan Yuni Astuti 10.048 suara.


Sekitar satu jam kemudian, pada pukul 16.00, mantan wartawan, presenter TV dan produser talkshow radio ini kembali mengecek perkembangan suaranya. Rahmat masih merujuk link hitung suara KPU. Sungguh di luar dugaan. “Suara saya malah mlotrok (turun drastis, Red) tinggal 4.205 suara,” cerita pria asal Sragen, Surakarta ini kemarin (18/2).


Malam harinya, sekitar pukul 19.00, pria yang pernah menjabat ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIJ periode 2007-2011 dan 2011-2014 kembali memonitor suaranya. Lagi-lagi alumnus Fakultas Geografi UGM ini dibuat geleng-geleng kepala. Suaranya lagi-lagi berkurang. “Mlotrok meneh (turun lagi, Red) jadi 3.553 suara,” tuturnya dengan nada bingung.


Menyadari itu, mantan aktivis yang pernah ikut membongkar kasus ijazah palsu Bupati Sragen Untung Wiyono sekitar tahun 2000 silam, tak mau tinggal diam. Rahmat berusaha mengonfirmasi atas kehilangan suara tersebut kepada internal tim sukses Partai Gerindra dan KPU Provinsi DIJ.


Namun jawaban yang diperolehnya tidak memuaskan. Baik tim internal partainya maupun KPU beralasan saat ini lembar C1 sudah sampai ke kecamatan dan terjadi sinkronisasi dengan data yang ada di sistem informasi rekapitulasi atau disingkat Sirekap. Sebuah aplikasi berbasis teknologi informasi yang dikembangkan dan digunakan KPU. “Ada dua hal yang janggal atas hilangnya suara saya tersebut,” lanjut Rahmat.


Dikatakan, pertama, bila terjadi sinkronisasi data C1 di kecamatan, muncul pertanyaan kenapa yang berkurang hanya suara miliknya. Sedangkan suara caleg yang lain tidak terlihat signifikan perubahan suaranya. “Jika ada kesalahan sistem hitung KPU, tentu perubahan perolehan suara itu terjadi pada semua caleg,” beber ayah satu putra ini. Kedua, bila terjadi kesalahan data dalam sinkronisasi itu, kenapa suaranya yang hilang tergolong sangat besar. Jumlahnya mencapai 2.340 suara.


Menyikapi kejadian ini, Rahmat mendesak diadakan audit forensik atas sistem rekap data KPU. Sebab, kejadian yang dialaminya itu sangat merugikan. Sebab, suara yang hilang itu merupakan aspirasi rakyat. “Sangat merugikan saya dan abai terhadap setiap aspirasi rakyat yang dititipkan kepada saya melalui Pileg 2024 pada 14 Februari 2024 lalu,” tegasnya menahan rasa geram.


Saat kampanye, Rahmat mengusung lima program sesuai nomor urutnya. Kelima program itu meliputi pendidikan dan kesehatan gratis di DIJ, masalah sampah selesai, penduduk lanjut usia dijamin negara, gaji DPR akan diserahkan untuk rakyat, dan membangun Jogja sebagi zona industri kreatif anak muda. (kus/laz)

Editor : Satria Pradika
#KPU #suara hilang #caleg #pemilu 2024 #Sistem Rekap Data Pemilu #TPS #Komisioner KPI #gerindra