Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mahasiswa KKN 25 UMBY Lakukan Sosialisasi Pengolahan Sampah di SD Nitikan Semanu

Dwi Putri Birgita Lumban Nahor • Sabtu, 10 Februari 2024 | 07:41 WIB
INOVASI: Mahasiswa KKN-PPM Universitas Mercubuana Yogyakarta (UMBY) Kelompok 25 melakukan sosialisasi pengenalan dan pengolahan sampah di SDN Nitikan, Semanu, Semanu, Gunungkidul (31/1).
INOVASI: Mahasiswa KKN-PPM Universitas Mercubuana Yogyakarta (UMBY) Kelompok 25 melakukan sosialisasi pengenalan dan pengolahan sampah di SDN Nitikan, Semanu, Semanu, Gunungkidul (31/1).

RADAR JOGJA- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Mercubuana Yogyakarta (UMBY) Kelompok 25 melakukan sosialisasi pengenalan dan pengolahan sampah di SDN Nitikan, Semanu, Semanu, Gunungkidul (31/1/2024).


Kelompok KKN-PPM 25 UMBY dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan Naela Faza Farih MSc. Kelompok ini terdiri dari sepuluh mahasiswa lintas jurusan. 


Sosialisasi ke sekolah adalah salah satu cara mengenalkan cara mengelola sampah yang baik dan benar.

Ketua Kelompok KKN-PPM 25 Ardi Anggara mengatakan, ada tiga jenis sampah yaitu, organik, B3, dan anorganik.

Organik yaitu sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup yang terurai secara alami.

Anorganik adalah bahan logam, plastik, kaca, karet, dan kaleng. Sifat sampah anorganik adalah tahan lama dan sukar membusuk.

"Sedangkan sampah B3 bahan berbahaya, beracun seperti zat/energi atau komponen lain, yang biasa di singkat dengan B3,” terangnya.

Sampah organik seperti limbah makanan dapat diubah menjadi serat yang digunakan untuk pembuatan tekstil ramah lingkungan.

Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan mengolah limbah organik melalui proses fermentasi dan ekstraksi serat dari hasil fermentasi tersebut.


Sosialisasi yang dilakukan oleh mahasiswa KKN UMBY ini bertujuan memberi dasar kepada siswa bahwa sampah yang dibuang sehari-hari ternyata memiliki sebuah manfaat. Bahkan, menjadi nilai jual jika diinovasikan.

Pengembangan dan implementasi teknologi ini masih dalam tahap awal. Namun, upaya untuk mencari solusi berkelanjutan dan mengurangi dampak lingkungan terus dilakukan.

Inovasi semacam ini dapat menjadi bagian dari solusi di masa depan.


Kelompok KKN-PPM 25 juga mempraktikan cara pembuatan toga menggunakan serat yang dihasilkan dari limbah organik.

Serat tersebut dapat diubah menjadi benang dan digunakan untuk membuat pakaian. Termasuk toga. (Dwi Putri Birgita Lumban Nahor)

Editor : Amin Surachmad
#Pengolahan Sampah #Gunungkidul #Mahasiswa KKN #ppm #semanu #UMBY