SLEMAN - Kalurahan Caturharjo di Kabupaten Sleman terus berupaya melestarikan budaya. Salah satunya adalah budaya gerobak sapi.
Festival yang melibatkan bajingan atau pengemudi gerobak sapi pun rutin digelar.
Lurah Caturharjo Agus Sutanto mengatakan, festival gerobak sapi memang tiap tahun selalu digelar di wilayahnya.
Baca Juga: Poster Film Jadul Dikonsep di Jogja, Dibuat di Solo Satu Minggu
Bahkan, tidak jarang dalam festival tersebut juga melibatkan komunitas gerobak sapi dari luar daerah DIY.
Agus mengungkapkan, belum lama ini juga telah digelar festival gerobak sapi yang diinisiasi oleh komunitas Manunggal Lestari Wilayah Sleman Barat. Kegiatan itu diikuti sebanyak 150 bajingan tidak hanya dari Sleman.
Baca Juga: Suplai Magma Masih Berlangsung, Gunung Merapi Luncurkan 9 Kali Guguran Lava Pijar ke Arah Barat Daya, Jarak Luncur Maksimum 1,6 Kilometer“Namun, juga ada yang berasal dari Kediri, Jawa Timur. Serta beberapa wilayah di Jawa Tengah seperti Klaten, Purworejo, serta Klaten,” ujar Agus kepada Radar Jogja, Jumat (12/1).
Ia mengungkapkan, tujuan dari festival gerobak sapi tersebut tidak lain untuk melestarikan budaya.
Baca Juga: Hasil La Liga: Las Palmas Kalahkan Villarreal, Celta Vigo Curi Satu Poin dari Mallorca
Harapannya generasi muda dapat terus mengenal warisan leluhur.
Dijelaskan Agus, festival yang rutin diselenggarakan di wilayahnya tidak hanya sekadar menampilkan gerobak sapi dari berbagai daerah.
Baca Juga: Hasil Serie A Sabtu 13 Januari: Napoli Bungkam Salernitana, Torino Tahan Imbang Genoa
Namun, juga dilakukan adu ketangkasan bajingan dalam mengendalikan sapi-sapinya.
Menurut dia, kegiatan festival gerobak sapi di Caturharjo juga selalu sukses untuk menarik minat masyarakat untuk datang menonton.
Sebab, pesertanya tidak pernah sepi serta selalu digelar kirab dengan mengitari jalan-jalan desa.
Baca Juga: Hasil Chelsea v Fulham: Gol Penalti Cole Palmer Pastikan The Blues Raih Tiga PoinAgus pun berharap, kegiatan festival gerobak sapi di Caturharjo dapat terus digelar rutin tiap tahunnya.
Sehingga kemudian kebudayaan gerobak sapi yang melekat pada masyarakat petani bisa tetap ada dan tidak hilang digerus kemajuan zaman.
“Tujuan festival gerobak sapi kami gelar rutin tidak lain untuk nguri-uri kabudayan,” terangnya. (inu)