RADAR JOGJA - Bioskop pada medio 1970 hingga 2000-an promosi filmnya belum seramai seperti sekarang. Itu karena keterbatasan perkembang teknologi tidak semenggeliat kini. Kondisi itu mengakibatkan banyak ruang promosi dilakukan secara manual langsung. Bukan melalui dunia maya seperti saat ini.
Misalnya dalam hal promosi film yang sedang, akan, dan segera tayang. Mungkin sekarang untuk lihat jadwal film tayang atau yang akan bisa dilakukan hanya bermodalkan gawai saja. Namun dahulu tidak demikian. Masyarakat, paling tidak harus mendatangi gedung bioskop untuk mengetahuinya.
Satu di antara yang paling kondang untuk nonton film di Jogja adalah Bioskop Permata. Meski kini sudah tidak beroperasi, dulu saat masa kejayaannya Bioskop Permata menjadi idola banyak kalangan. Masa aktifnya hingga ditutup operasionalnya pada 2010, Bioskop Permata tetap mempertahankan pola promosi manual.
Mantan pekerja Bioskop Permata Jamsuki menceritakan, dahulu ada beberapa pola promosi atau mengabarkan penayangan film. Misalnya seperti menyebar selebaran poster secara keliling sambil memberikan pengumuman memakai pengeras suara menggunakan mobil. "Selebaran itu dicetak berwarna, kadang nempel-nempelkan juga di mana-mana," bebernya kemarin (12/1).
Sementara untuk poster film yang ukurannya besar sekitar 12 x 4 meter akan dilukis. Dia menuturkan, dulu Bioskop Permata selalu melukis poster film ukuran besar di Kota Solo. Itu lantaran karena tempatnya bekerja sudah berlangganan, sehingga sudah biasa ke sana.
Di Solo hanya tempat melukisnya saja. Untuk ketentuan apa yang akan dilukis, sudah ditetapkan di Bioskop Permata. "Dibawa dari Jogja ke Solo dan digambar. Paling tidak sampai seminggu sudah jadi, dibawa ke sini lagi terus dipasang," tambahnya.
Dia menyebut, gunanya sebagai promosi lukis poster film ukurang besar itu. Lukis poster film yang besar dipasang hanya di atas gedung Bioskop Permata saja. Nanti dalam lukisan poster film ada pemberitahuan yang sedang, akan, dan segera ditayangkan. Biasanya, posisi informasi yang tayang hari ini diposisikan di tengah, diapit dengan informasi yang akan dan segera tayang.
Nanti pemasangannya secara manual yang dicantelkan ke paku yang ada di tempatnya. Namun sekarang kondisi tempat pemasangannya sudah dibongkar. Sekitar 2018-an tempat itu dibongkar dan sekarang sudah tidak ada.
Jamsuki sudah sejak kecil bantu-bantu kerja di Bioskop Permata hingga dewasa. Tanpa terasa dia bekerja hingga 30 tahun lebih pada 2010 ditutup, turut serta berhenti bekerja. Dia mulai profesional kerja di sana sekitar 1980-an.
Ia masih ingat, awalnya bekerja harga tiket masuk (HTM) Rp 4 ribu dan terakhir sebelum tutup Rp 6 ribu. Dia pun masih ingat gajinya yang dari Rp 104 ribu per bulan hingga Rp 730 ribu, sebelum akhirnya tidak bekerja di sana lagi.
"Orang mulai pada punya televisi dan VCD. Penonton Bioskop Permata pun jadi berkurang," ungkapnya. Untuk pemasangan poster lukis, hanya di gedung Bioskop Permata karena billboard dahulu belum sebanyak sekarang. (rul/laz)