RADAR JOGJA - Pada hari Jumat lalu, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat mengumumkan larangan sementara terhadap operasi pesawat Boeing 737 MAX 9 yang dioperasikan oleh sejumlah maskapai, termasuk Alaska Airlines.
Dilansir dari ABC News, keputusan ini diambil menyusul insiden serius terlepasnya penutup pintu tengah kabin (jendela) pada penerbangan Alaska Airlines.
Menurut FAA, pelarangan ini akan berdampak pada sekitar 171 pesawat Boeing 737 MAX 9 di seluruh dunia.
Administrator FAA, Mike Whitaker, menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah inspeksi segera diwajibkan untuk pesawat tertentu sebelum mereka diizinkan kembali terbang.
Whitaker menegaskan bahwa tindakan ini dilakukan untuk mengatasi potensi hilangnya sumbat pintu tengah kabin, yang dapat menyebabkan cedera pada penumpang dan awak, kerusakan pada pesawat, dan/atau kehilangan kendali atas pesawat.
Keputusan ini berawal dari insiden pesawat Alaska Airlines yang terpaksa kembali ke Portland, Oregon, setelah lepas landas akibat terlepasnya satu jendela di kabin.
Sebuah foto yang beredar di media sosial menunjukkan adanya lubang di badan pesawat di sebelah kursi penumpang.
Alaska Airlines menyatakan bahwa dalam pesawat tersebut terdapat enam awak dan 171 penumpang yang sedang menuju Ontario, California.
Insiden tersebut mendorong maskapai untuk menghentikan sementara operasi armada Boeing 737-MAX 9 mereka.
Dalam pernyataannya, Alaska Airlines menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan awak selalu menjadi prioritas utama mereka.
Meskipun kejadian seperti ini jarang terjadi, awak penerbangan dilatih untuk menangani situasi darurat dengan aman.
Transkrip panggilan kontrol lalu lintas udara dari LiveATC.net menunjukkan bahwa kabin mengalami penurunan tekanan segera setelah lepas landas, dan pilot meminta pendaratan darurat.
CEO Alaska Airlines, Ben Minicucci, menyebut penghentian sementara ini sebagai langkah pencegahan. Dia menyatakan bahwa 65 pesawat akan kembali beroperasi hanya setelah selesai pemeliharaan penuh dan inspeksi keselamatan.
Alaska Airlines mengumumkan kerja sama dengan Boeing dan regulator untuk memahami penyebab insiden tersebut.
Maskapai berjanji akan terus memberikan informasi terkini seiring berjalannya penyelidikan oleh National Transportation Safety Board (NTSB) terhadap Alaska Airlines Penerbangan 1282.
Sebelum perintah FAA dikeluarkan, Alaska Airlines mengklaim bahwa lebih dari seperempat pemeriksaan armada Boeing 737 MAX 9 telah selesai pada Sabtu pagi dan tidak ada temuan yang mengkhawatirkan.
Maskapai ini menyatakan bahwa pesawat akan kembali beroperasi setelah inspeksi selesai.
Namun, akibat larangan terbang ini, Alaska Airlines terpaksa membatalkan 112 penerbangan atau 15 persen dari total penerbangannya pada hari Sabtu.
Dalam pernyataannya, maskapai ini meminta maaf kepada para penumpang yang penerbangannya terdampak.
Editor : Bahana.