RADAR JOGJA - India tengah menghadapi bencana alam serius dengan datangnya gelombang kabut yang tebal, memaksa otoritas pendidikan setempat untuk menutup sejumlah sekolah, menunda aktivitas konstruksi, hingga rencana penerapan pembatasan penggunaan kendaraan bermotor.
Kabut pekat yang menyelimuti beberapa bagian negara ini telah mempengaruhi kualitas udara secara signifikan, menyebabkan penurunan visibilitas yang signifikan dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.
Beberapa kota besar, termasuk New Delhi, menghadapi tingkat polusi udara yang sangat tinggi, memberikan dampak serius pada masyarakat.
Dilansir dari laman cnbcindonesia.com Rabu, (27/12) Menurut laporan Badan Pengendalian Polusi Pusat, indeks kualitas udara New Delhi menyentuh angka 376 pada hari Selasa pagi, tergolong "sangat buruk". Level 0 hingga 50 dinilai baik.
Mayoritas dari 20 juta penduduk New Delhi mengeluhkan iritasi mata dan tenggorokan gatal saat udara berubah menjadi abu-abu pekat.
Pihak pemerintah saat ini sedang merencanakan untuk melakukan penyemaian awan, yaitu suatu metode penyemaian awan dengan menggunakan zat seperti yodium perak untuk menciptakan hujan.
Sebelumnya, Cina, Indonesia dan Malaysia telah menciptakan hujan buatan dengan alasan yang sama.
Sementara itu, Setiap menjelang musim dingin, kualitas udara di India, khususnya di New Delhi, memburuk setiap tahunnya.
Musim dingin menyebabkan meningkatnya polusi udara dari sejumlah sumber, termasuk kendaraan, industri, debu konstruksi dan pembakaran limbah pertanian.
New Delhi secara berturut-turut menempati posisi teratas dalam daftar kota paling berpolusi di dunia yang disusun oleh grup Swiss IQAir. Angka indeksnya mencapai 640 dengan kategori berbahaya pada hari Jumat waktu setempat.
Editor : Bahana.