RADAR JOGJA – Nigeria dilanda duka mendalam setelah kelompok bandit melancarkan serangan brutal di sebuah wilayahnya yang menyebabkan sedikitnya 160 orang tewas.
Serangan terjadi di wilayah Nigria barat dan Tengah yang kini menjadi saksi tragedi kemanusiaan yang mengerikan.
Dilansir dari laman voaindonesia.com, Selasa (26/12) Jumlah korban tersebut menandai peningkatan tajam dari angka awal yang dilaporkan oleh pihak militer pada Minggu (24/12) malam.
Pihak militer awalnya melaporkan 16 orang tewas dalam serangan di wilayah yang selama beberapa tahun terakhir ini telah dilanda ketegangan agama dan etnis.
Kepala pemerintahan lokal di Bokkos, Plateau, Monday Kassah, mengungkapkan kepada kantor berita Perancis, AFP, bahwa total 113 orang dipastikan tewas dalam serangan pada hari Sabtu (23/12) yang berlanjut hingga Senin dini hari.
Kelompok-kelompok militer, sebagaimana yang disebut oleh penduduk setempat sebagai "bandit", ini telah meluncurkan serangan yang "terkoordinasi dengan baik" di "setidaknya 20 komunitas yang berbeda".
Selain itu, para pelaku juga membakar sejumlah rumah.
“ Kami menemukan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka,” yang dipindahkan ke rumah sakit di Bokkos, Jos dan Barkin Ladi,” ucapnya.
Sementara itu, Palang Merah lokal mencatat 104 orang tewas di 18 desa di Bokkos.
Seorang anggota parlemen negara bagian, Dickson Chollom, menyatakan bahwa 50 orang lainnya juga dinyatakan tewas di daerah Barkin Ladi.
Chollom mengecam aksi penyerangan tersebut dan mendesak aparat keamanan untuk segera bertindak.
Sebelumnya, Kawasan di bagian barat laut dan tengah Nigeria memang sudah lama dilanda teror oleh para kelompok militan bandit bersenjata yang beraksi dari markas mereka yang berada jauh di dalam hutan dan menyerang desa-desa untuk merampas dan menyandera warga untuk memperoleh uang jaminan.
Perang jihad meletus di timur laut Nigeria sejak tahun 2009, mengakibatkan puluhan ribu orang tewas dan sekitar 2 juta orang lainnya mengungsi, bersamaan dengan pertarungan Boko Haram untuk memperebutkan supremasi dengan para pesaingnya yang terkait dengan kelompok ISIS.
Adanya perebutan sumber daya alam di antara para pengembara dan petani nomaden, semakin diperburuk oleh tingginya jumlah penduduk dan perubahan iklim, memicu ketegangan sosial dan kekerasan.
Editor : Bahana.