RADAR JOGJA - Semprong adalah salah satu alat yang wajib ada di dapur pada zaman dulu. Semprong masih 'saudara' dengan keren yang berfungsi sebagai alat tiup untuk menyalakan api.
Kalau belum tahu wujud semprong, warga Paliyan, Gunungkidul Sudarmanto bisa berbagi cerita dan pengalaman memori masa kecil tempo dulu. Kata dia, selain sebagai alat tiup, semprong juga memiliki fungsi ganda menjaga api agar tetap murup (menyala).
"Semprong terbuat dari batang bambu kecil dan sepanjang ruas yang tembus lubang dari ujung ke ujung," kata Sudarmanto kepada Radar Jogja (15/12).
Dengan dua ujungnya berlubang, maka ketika ditiup anginnya menghembus keluar menyatu membuat api bisa terus menyala. Anggota KPU Gunungkidul ini menjelaskan, panjang semprong antara 30-40 centimeter.
Di masa lalu, orang tua dan nenek buyutnya terbiasa dengan alat dapur semprong. Sebagai seorang anak laki-laki, dirinya memang jarang menggunakan, tapi pernah mencoba sekali dua kali. "Malah batuk-batuk, karena asap menerpa wajah," kelakarnya.
Biasanya pada masa lalu kegiatan memasak tidak sehari tiga kali. Maka penggunaan semprong sebagai alat bantu meniup api juga tidak terlalu sering.
Sudarmanto jadi ingat ketika pagi gelap di era 80-an. "Bangun pagi kedinginan, setelah beraktivitas lalu menuju dapur menghangatkan badan," ucapnya.
Sesekali terdengar teriakan ibu dari kejauhan meminta agar titik api di tungku diamankan agar tidak padam. Tugas mulai menuruti perintah orang tua harus dilaksanakan. Begitu Sudarmanto mencoba taat. "Sambil bakar singkong atau botor," ucapnya mengenang masa kecil yang indah.
Menurutnya, semprong sangat legend. Dalam proses ndamu (meniup), menurutnya, ada filosofi yang sangat dalam. "Bahwa urip iki urup, yang bermakna hidup itu menghidupkan dan menerangi bagi sesama," ucapnya.
Ampuh untuk Jaga Bara Api
Bagi sebagian masyarakat modern, mungkin tak lagi mengenal istilah semprong bambu. Padahal, peranti dapur ini memiliki kegunaan cukup penting untuk memasak di atas tungku tradisional.
Semprong bambu biasa digunakan sebagai alat tiup untuk memastikan agar bara api tetap menyala. Semprong terbuat dari bambu berdiameter sekitar 5 cm dengan panjang 30 cm. Dari segi bentuk alat tiup ini sama seperti bambu pada umumnya.
Secara perlahan, keberadaan semprong bambu kini mulai terkikis zaman. Perkakas dapur trandisional itu sudah terbilang sulit dijumpai. Terlebih sebagian besar masyarakat sudah mengandalkan kompor gas sebagai pengganti tungku.
Seperti diungkapkan mantan pengguna semprong bambu, Dwi Cahyani, 53, warga Karangsari, Kebumen. Menurutnya, semprong saat ini sudah menjadi barang asing. Tepatnya ketika masyarakat mulai mengenal kompor minyak tanah. Atau sekitar dekade tahun 90-an. "Ngomong zaman dulu masak ya pakai tungku. Kalau api mati, tinggal cari bambu (semprong), terus tiup," katanya (15/12).
Dwi mengungkapkan, alat tiup pengganti kipas ini sempat masyhur pada masanya. Kala itu semprong menjadi peralatan yang tak terpisahkan bagi kalangan ibu rumah tangga. Terbukti memudahkan untuk menjaga bara api di dalam tungku tetap stabil.
Semprong, lanjut Dwi, berfungsi sebagai alat tiup agar terhindar dari kepulan asap di dalam tungku. Selain itu kegunaan alat ini juga menjaga area muka tidak merasa panas ketika meniup dekat lubang tungku.
"Bisa dibilang alat satu paket sama tungku. Tiup pakai mulut langsung kan capek. Asapnya ke mana-mana. Mata rasanya pedas," ucapnya.
Biasanya, kata dia, semprong bambu diletakkan di dekat tungku. Perlakuan ini mengandung maksud, jika bara api dalam tungku mati, maka ibu rumah tangga tak kesulitan mencari keberadaan semprong. "Misal tidak ada bambu, pakai daun jati atau pisang. Sering-seringnya tetap ada di pinggir tungku," ungkapnya. (gun/fid/laz)
Editor : Satria Pradika