KEBUMEN - Mimpi besar Wiji Kusumaningsih, 36, dalam mengurangi risiko stunting kini terwujud. Lewat inovasi produk olahan ganyong, ia mampu menurunkan angka kekurangan gizi kronis hingga 50 persen.
Bahkan, kini ia mematok target lebih. Yakni, zero stunting di setiap desa binaanya.
Dari prodak olahannya itu, Wiji mendapat penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) dalam kategori Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2023.
Secara perlahan masalah stunting di wilayah desa binaan Puskesmas Kebumen 2 sedikit terurai. Kondisi ini tidak terlepas atas kerja keras seorang tenaga medis yang bertugas di layanan kesehatan tersebut.
Baca Juga: Video Konten Creator Bikin Khawatir, Pengelola Pantai Menganti Takut Jumlah Wisatawan Merosot
Sejak 2020 silam, Wiji begitu telaten mencari formula terbaik untuk mengentaskan persoalan stunting.
Hingga akhirnya menemukan produk olahan dari tepung ganyong. Tepung ini kemudian diproduksi menjadi mi kering sebagai makanan tambahan balita.
"Bahan kami ambil dari lokal, kebetulan desa binaan saya ada percontohan lahan ganyong," katanya, Jumat (24/11).
Inovasi ini berangkat dari keprihatinan Wiji melihat balita stunting di wilayah binaannya. Ia merasa terpanggil untuk terlibat langsung mengurai persoalan tersebut.
Menurutnya, ganyong salah satu tanaman umbi yang memiliki sejuta manfaat bagi tubuh, khusunya untuk mengatasi kekurangan gizi.
Selain ganyong, ia juga menambahkan campuran ekstraksi daun kelor dan ikan kembung. Produk olahannya itu juga tanpa campuran micin atau MSG. Sebagai pengganti, biasanya menggunakan bawang putih dan garam.
"Di dalam ganyong itu angka kecukupan gizi mencukupi. Ada FE dan kalsium tinggi per 100 gram," bebernya.
Wiji menyebut, data prevelesi stunting di wilayah binaan Puskesmas Kebumen 2 pada tahun 2020 awalnya 18,31 persen.
Baca Juga: Tahun-Tahun Sebelumnya Diajak, Kali Ini Absen, KSPSI Kecewa Tak Dilibatkan Penentuan Usulan UMK
Kemudian berangsur turun menjadi 9,15 persen pada tahun 2022. Terkahir, memasuki pertengahan tahun 2023 ini total menjadi 8,66 persen.
"Tidak otomatis langsung turun. Butuh waktu juga. Dari data saya lihat sudah bagus, melebihi target 50 persen yang diharapkan. Tinggal digenjot lagi," kata Wiji.
Produk mi kering berbahan ganyong tersebut bahkan kini sudah ditiru oleh 14 posyandu di lima desa. Mengingat sudah terbukti cukup efektif untuk penurunan stunting.
Kader kesehatan dari lima desa tersebut rutin memproduksi secara mandiri mi ganyong untuk diberikan kepada balita.
"Kader desa sudah dilatih cara pengolahan, biar mereka mandiri. Setelah itu produksi sendiri untuk dibagikan," ungkapnya.
Baca Juga: KSPSI Kecewa Tak Dilibatkan Penentuan Usulan UMK, Minta Keadilan untuk Para Pekerja
Hingga kini ia terus mengajak masyarakat agar mengurangi risiko stunting secara mandiri. Dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada di sekitar, salah satunya umbi ganyong.
Ia optimistis persoalan stunting dapat terselesaikan, asalkan masyarakat saling berkolaborasi.
"Bisa kok dibuat banyak varian. Ada cookies, puding dan nastar pun bisa. Tinggal mana yang disukai balita," pungkasnya. (fid)