RADAR JOGJA - Ini peringatan yang wajib diketahui orang tua. Terutama yang berhubungan dengan kebiasaan menggunakan handphone (HP). Khususnya bagi anak-anak. Sebab, kebiasaan yang dilakukan setiap hari dan berkelanjutan dalam jangka panjang bisa mempengaruhi pembentukan posturtubuh anak.
Kusno S. Utomo, Jogja
“Bila tidak hati-hati bisa menimbulkan postur buruk,” ujar Ragil Atmaja ST. AIFO di sela kegiatan bertema“Pelatihan Penanganan Pascacedera” di ruang Condro Kinasih Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Jogja.
Ragil sebagai instruktur memberikan pelatihan selama empat hari. Mulai Senin (13/11) sampai dengan Kamis (16/11). Pesertanya terbagi dua. Sejumlah pelatih cabang olahraga (cabor) dan guru olahraga SD serta SMP se-Kota Jogja.
Baca Juga: KONI DIY Mitigasi Problema Hukum dalam Organisasi Olahraga
Terbentuknya postur buruk bisa bersumber dari beberapa hal. Antara lain olahraga dan kegiatan yang dilakoni sehari-hari. “Menggunakan HP bagian dari keseharian kita,” terang alumnus Fakultas Teknik Industri Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa Jogja ini.
Penggunaan ponsel dan cara duduk yang tidak benar-benar secara terus menerus dalam jangka panjang dapat berakibat ke banyak hal. Postur anak-anak saat dewasa bisa bungkuk. Potensi darah tinggi dan asam urat. “Jadi jangan disepelekan,” ingatnya.
Dia mengapresiasi inisiasi pelatihan yang dilakukan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Jogja tersebut. Edukasi itu harus terus dilakukan. Guru dan pelatih cabor bisa menjadi jembatan menyosialisasikan ke anak-anak dan masyarakat. Pencegahan penanganan, lanjut Ragil, penting dilakukan. Ini sebagai antisipasi sebelum terjadinya cedera.
Di depan peserta, Ragil juga mengenalkan metode Gotro. Ini akronim dari gangguan otot rangka akibat olahraga. Peserta juga diajak mendiskusikan soal penggunaan es. Banyak yang masih menggunakan es saat pertama terjadi cedera. Dalam metode yang dikenalkan Ragil, es tidak wajib digunakan.
Baca Juga: Olahraga Sambil Mendengarkan Musik Ternyata Memiliki Banyak Manfaat lohh, Apa Saja…
Diingatkan, salah satu penyebab tingginya angka cedera atlet karena perilaku yang cenderung memaksakan diri. Tetap latihan pada saat sudah mengalami cedera karena takut tidak diikutsertakan dalam kompetisi. “Ini akan menyebabkanproses pemulihan semakin lama,” tutur pria yang berulang tahun setiap 19 Januari ini.
Dikatakan, kerusakan halus pada jaringan otot pascaberolahraga merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Terutama bagi para pemula. Olahragawan maupun atlet yang rutin berolahraga tak luput dari pegal-pegalbila intensitas olahraganya terus meningkat. Durasi pemulihan dari pegal-pegal memakan waktu tak menentu.
“Sangat bergantung dari penanganan dan tingkat kerusakaannya,” kata suami Dewi Lestari ini.
Ragil juga membeberkan terjadinya inflamasi atau peradangan pada jaringan otot yang rusak. Itu merupakanproses yang wajar dalam fase pemulihan. Saat olahraga jaringan otot secara tidak langsung akan rusak. Tujuannya,setelah proses regenerasi sel, tubuh akan menambah jumlah jaringan ototnya.
Ini sebagai bentuk persiapan menerima tekanan yang lebih berat. Secara umum pelatihan bertujua pencegahan angka kejadian cedera olahraga yang tinggi dan mengurangi tingkat keparahan akibat cedera olahraga. (laz)
Editor : Satria Pradika