Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Imigran Rohingnya Kembali ke Aceh, Warga Pante Sukon, Bireuen Tolak Kedatangan Takut Berperilaku Kurang Baik Seperti Sebelumnya

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 17 November 2023 | 18:11 WIB
Imigran Rohingnya gelombang tiga sampai di pesisir pantai Desa Pante Sukon, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada kamis (16/11/23). (Tangkapan layar video TikTok/@R&D)
Imigran Rohingnya gelombang tiga sampai di pesisir pantai Desa Pante Sukon, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada kamis (16/11/23). (Tangkapan layar video TikTok/@R&D)


RADAR JOGJA – Imigran Rohingnya gelombang ketiga di bulan November ini telah sampai di pesisir pantai Desa Pante Sukon, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada kamis (16/11/23).


Akan tetapi, kedatangan imigran rohingnya tersebut ditolak oleh warga setempat.

Setelah mendengar kabar kedatangan mereka, warga setempat berbondong-bondong pergi ke pesisir pantai untuk menghalau kapal imigran tersebut mendarat di pesisir pantai wilayah mereka.


Diketahui, penolakan yang diberikan oleh warga Aceh tersebut karena imigran rohingnya sebelumnya, yang mereka terima berperilaku kurang baik dan tidak patuh terhadap norma-norma masyarakat setempat.


Untungnya setelah diberi pengertian oleh aparat kepolisian, warga setempat mau untuk membantu. Tetapi bukan dengan menerima.


Warga setempat membantu para imigran dengan memberikan makanan, minuman, dan bahan bakar minyak. Mereka juga membantu menyediakan boat untuk menarik kapal imigran kembali ke laut.


Jumlah imigran rohingnya digelombang ketiga ini mencapai 249 orang. Dari 249 imigran tersebut, ada 5 imigran yang tinggal di Bireuen karena mengalami kondisi yang lemah sehingga membutuhkan perawatan medis.

Kelima imigran tersebut ditempatkan di Gedung SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Cot Gapu, Bireuen dan sudah ditangani oleh pihak UNHCR (United Nations High Commissioner).


Sedangkan imigran rohingnya yang lainnya, kembali ke laut untuk menuju pesisir pantai Kabupaten Aceh Utara atau lebih tepatnya di pesisir pantai Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu.


Diketahui, gelombang pertama imigran rohingnya telah tiba di pesisir pantai Desa Kulee, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen pada Selasa (14/11/23). Gelombang pertama tersebut membawa 200 imigran.


Gelombang kedua tiba setelahnya pada Kamis (15/11/23) di pesisir pantai Desa Pasie Meurandeh, kecamatan Batee, Pidie, dengan membawa 174 imigran.


Terdapat alasan lain mengapa warga Aceh menolak kedatangan imigran rohingnya ini.

Dilansir sejumlah sumber, Koordinator KontraS Aceh Azharul mengatakan, penolakan tersebut terjadi karena pemerintah Indonesia tidak memiliki mekanisme yang komprehensif dalam penanganan pengungsi luar negeri di Aceh, yang masih terkesan diabaikan tanpa supervisi.


Lebih lanjut, menurut Azharul, pemerintah Indonesia selama ini tampak membiarkan Aceh mencari jalan keluarnya sendiri dalam menangani kedatangan imigran tersebut.


Kembali kata Azharul, penolakan terhadap imigran rohingnya yang sudah mendarat, tetapi dikembalikan ke peraiaran tersebut, justru melanggar prinsip “non-refoulement” yang dimana prinsip tersebut merupakan salah satu kewajiban internasional bagi setiap negara.


Pengungsi rohingnya melakukan imigran untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Imigran rohingnya termasuk dalam etnis yang berstatus tanpa kewarganegaraan.


Rohingnya merujuk pada komunitas muslim yang dimana sebagian besar orangnya berasal dari Negara Myanmar.

Rohingnya dinyatakan sebagai kelompok minoritas paling teraniaya di dunia.


Sebelumnya, para imigran rohingnya ini telah terpaksa menumpang hidup di negara Bangladesh.

Akan tetapi, negara tersebut tidak memberikan harapan hidup bagi mereka karena kemiskinan dan membludaknya populasi di Bangladesh.

Imigran rohingnya kemudian mencari tempat lain untuk menjadi tempat pengungsian mereka.


Seringnya, para imigran tersebut berlabuh di 3 negara ini yakni, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

Aceh menjadi tempat langganan di Indonesia untuk para imigran rohingnya mendarat.(Anistigfar/Radar Jogja)

Baca Juga: Sejumlah Titik dan Ruas Jalan di Jogja Dilarang Ada APK

Editor : Meitika Candra Lantiva
#rohingnya myanmar #imigran rohingnya mendarat di Aceh #gelombang ketiga di bulan November ini #rohingnya #imigran rohingnya terdampar