RADAR JOGJA - Konflik Israel dan Palestina hingga kini belum mereda. Serangan demi serangan masih terus dilakukan menyasar penduduk Palestina. Hingga kini sudah belasan ribu orang menjadi korban, sejak serangan Hamas ke Palestina.
Dukungan terhadap negeri Palestina berdatangan dari negara lainnya. Israel pun tak lepas dari kecaman sejumlah negara lain.
Atas tindakan tidak berprikemanusiaan atas serangan ke penduduk Palestina lantaran anak-anak dan perempuan banyak yang menjadi korban.
Bahkan Israel kerap dikait-kaitkan dengan Zionisme. Lalu apa itu Zionisme? Berikut ulasannya!
Israel, Zionisme?
Sama dengan negara lainnya, Israel punya keragaman budaya, agama, dan etnis.
Memiliki populasi sekitar 7,5 juta jiwa, Israel merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia.
Meski sering dikaitkan dengan Zionisme, tidak semua penduduk Israel adalah Zionis.
Hal ini hanyalah salah satu aspek dari identitas yang sangat kompleks bagi masyarakat Israel dengan penduduk yang memiliki berbagai latar belakang, keyakinan, dan pandangan.
Untuk memahami mengapa tidak semua penduduk Israel zionis, ada baiknya kita harus memahami terlebih dahulu apa itu Zionisme.
Zionisme
Zionisme merupakan upaya untuk mencapai negara Yahudi yang merdeka.
Kata tersebut berasal dari Sion, sebuah bukit dengan Kota Yerusalem.
Zionisme tentang gerakan politik dan ideologi yang muncul pada akhir tahun 1800-an dan awal Jaffa Gate in Jerusalem’s Old City, Toward the End of the Ottoman Empire’s control over Palestine.
Pada 1900-an tujuan mendirikan gerakan politik tersebut salah satunya untuk mempertahankan eksistensi negara Yahudi di tanah Israel yang sebagian wilayahnya dulu merupakan bagian dari Palestina.
Meskipun ideologi tersebut mempengaruhi pembentukan negara Israel, hal tersebut tidak serta merta mencerminkan pandangan warga israel dengan gambaran umum tentang keragaman identitas dan pandangan di antara penduduk Israel.
Keragaman agama di Israel menjadi rumah bagi berbagai kelompok agama, termasuk orang Muslim, Kristen, Druze, Baha’i, dan Yahudi.
Ini menciptakan keragaman besar dalam keyakinan dan praktek agama di negara tersebut.
Meskipun Zionisme berakar dalam identitas Yahudi, ada banyak warga negara Israel yang bukan orang Yahudi. Sebab, tidak semua penduduk Israel mendukung Zionisme secara aktif.
Selain perbedaan agama, penduduk warga israel memiliki berbagai etnis yang signifikan.
Ada kelompok etnis Ashkenazi (keturunan Eropa Timur), Mizrahi (keturunan Timur Tengah), Sephardi (keturunan Spanyol), dan kelompok etnis lainnya.
Sebagian besar penduduk Mizrahi dan Sephardi memiliki hubungan yang mendalam dengan negara-negara Timur Tengah, sementara kelompok Ashkenazi seringkali memiliki latar belakang Eropa Timur.
Identitas etnis ini dapat memengaruhi cara individu mengidentifikasi bahwa mereka tidak ada campur tangan dengan gerakan Zionisme.
Mengutip dari annefrank (buku yang ditulis pengarang Annelies Marie "Anne" Frank) saat ini kata zionis sering dijadikan kata makian.
Sebagai label bermakna sangat negatif.
Banyak warga Palestina dan pendukung pejuang Palestina tidak lagi membedakan antara kata 'Yahudi','Israel', dan 'Zionis'.
Dalam buku tersebut, Anne menyebut hal itu tidak benar. Sebab, tidak semua penduduk Israel itu Zionis dan tidak semua Yahudi tinggal di Israel.
Ada banyak non-yahudi yang tinggal di israel. Dan tidak semua orang Yahudi Israel adalah ‘pemukiman’ yang ingin menaklukan lebih banyak lagi tanah Palestina.
Mengapa ko tidak semua penduduk Israel adalah Zionis ?
Dikarnakan penduduk arab Israel menavigasi identitas ganda yang dimana penduduk arab Israel merupakan kelompok minoritas di negara ini dan seringkali mereka memilki pengalaman berbeda dalam menavigasi identitas mereka.
Mereka adalah warga negara Israel yang mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dengan warga negara, namun mereka juga terhubung dengan Palestina dalam konteks nasional.
Banyak dari mereka mendefinisikan diri mereka sebagai bagian dari masyarakat arab yang lebih luas dan menciptakan identitas ganda yang kompleks.
Hal ini seringkali menimbulkan pertanyaan terkait kesetiaan dan identitas nasional, sehingga mendukung Palestina agar berdampingan dengan Israel sebagai solusi yang mungkin mengatasi konflik tersebut.
Tetapi, solusi itu menjadi penolakan besar-besaran karna Israel sudah tidak lagi mempunyai rasa belaskasihan kepada warga penduduk Palestina.
Sampai saat ini Israel membombardir negara Palestina tanpa henti hingga memakan banyak korban yang berjatuhan. (Fahri Rafif Ararik)
Editor : Meitika Candra Lantiva