RADAR JOGJA - Di antara konflik Israel dengan Gaza, baru-baru ini dua platform peta utama di Cina - Alibaba dan Baidu - telah menghapus nama 'Israel' dari peta mereka, meskipun batas-batas negara dan nama-nama kota utamanya tetap ada.
Dilansir dari laman kabar24.bisnis.com Kamis (2/11), Sebelumnya, para pengguna media sosial di Cina mengungkapkan kebingungan mereka lantaran nama Israel tiba-tiba hilang dari peta digital terkemuka Baidu dan Alibaba.
Peta online berbahasa Mandarin Baidu hanya membatasi perbatasan Israel, serta wilayah Palestina dan kota-kota besar yang diakui secara internasional, tetapi tidak secara jelas mengidentifikasi negara tersebut berdasarkan namanya.
Hal serupa juga terjadi pada peta online yang dibuat oleh Amap milik Alibaba, yang bahkan negara-negara kecil seperti Luksemburg ditandai dengan jelas.
Keduanya belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai hal ini. Sebelumnya, grup Telegram Rybar menyatakan bahwa nama Israel telah menghilang dari peta Baidu bahkan sejak sebelum pecahnya perang dengan Hamas.
Rybar melakukan perbandingan antara dua tangkapan layar peta Baidu, satu dari tanggal 31 Oktober 2023, dan satu lagi dari tanggal 3 November 2022, di mana nama China untuk Israel (以色列) sama sekali tidak ada.
Sebelumnya, pihak Beijing menentang keras tindakan Israel yang melancarkan serangan brutal ke Jalur Gaza.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyebutkan bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sudah melampaui batas pertahanan diri. Ia meminta Tel Aviv untuk menghentikan hukuman kolektif terhadap rakyat di Gaza.
"Tindakan Israel telah melampaui ruang lingkup pembelaan diri,"ucap wang.
Pernyataan Wang diungkapkan kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan ketika keduanya mengadakan percakapan melalui telepon pada (14/10).
"Mereka harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh seruan masyarakat internasional dan Sekretaris Jenderal PBB, serta menghentikan hukuman kolektif terhadap rakyat Gaza,"jelas Wang.
Jumlah korban jiwa akibat konflik Israel-Palestina di Jalur Gaza ini terus meningkat sejak awal Oktober lalu.
Hingga 2 November 2023 pagi, jumlah korban tewas mencapai 8.796 orang.
Kementerian Kesehatan Palestina Mengungkapkan bukan hanya 8.000 orang yang tewas, namun sekitar 22.000 orang juga mengalami luka-luka.
Sementara itu, pekan lalu, Cina dan Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang disponsori Amerika Serikat yang mengecam Hamas dan menyerukan "jeda kemanusiaan" dalam pertempuran antara Israel dan Hamas, Palestina di Gaza.
(Fatimah Rizqi z)