RADAR JOGJA – Kementrian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan kasus monkeypox ditemukan pertama kali di Indonesia pada Agustus 2022.
Kasus positif yang ditemukan hingga saat ini melonjak menjadi 15 orang.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes dr Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, kasus positif monkeypox saat ini terlihat tinggi karena dilakukan tracing.
“Kenapa kasus tahun ini kelihatan tinggi? Apakah karena tracing? Jadi memang kasus tahun lalu sama,” ujar dr Maxi Rein Rondonuwu dalam konferensi pers virtual, dikutip dari PMJNews.com pada Jumat (27/10/2023).
“Jadi setiap ada satu kasus, kita melakukan tracing kontak erat. Malah tahun lalu itu dicari sampai dengan beberapa kelompok yang bisa sampai lebih dari 10 kita cari teman-temannya,” sambungnya.
Direktur Jenderal P2P itu memastikan bahwa pihaknya langsung melakukan tracing pada saat temuan kasus monkeypox tahun 2022 maupun 2023.
Monkeypox dapat ditularkan melalui interaksi sosial, sama halnya dengan Covid.
Namun, tahun lalu Indonesia masih berada di situasi pandemi Covid-19 yang membuat interaksi masyarakat sangat minim dilakukan.
“Ya, tahun ini kenapa lebih besar? Karena tahun lalu masih Covid. Memang saat berbarengan dengan Covid PHEIC yang dikeluarkan WHO saat masih Covid, mungkin kelompok-kelompok tertentu itu belum pada ketemu, mungkin masih jarang ketemu,” ujar dr Maxi.
Menurut dr Maxi, kasus monkeypox dapat menular melalui transmisi lokal.
Bahkan epidemiolog memprediksi kasus positif monkeypox ini akan mencapai 3.600 kasus.
Hingga saat ini, Kemenkes telah melaporkan temuan kasus monkeypox di Indonesia kepada World Health Organization (WHO). WHO meminta pemerintah Indonesia untuk menggencarkan vaksinasi.
“Kita tetap laporkan ke WHO dan saran-saran, kita libatkan WHO dalam rapat, saran mereka vaksinasi diteruskan ke kelompok-kelompok (tertentu),” kata dr Maxi. (Zahra Lailya/Radar Jogja)
Editor : Meitika Candra Lantiva