RADAR JOGJA - Gubernur DIY Hamengku Buwono X mengingatkan rencana pembangunan Momumen Husein Sastranegara di Jogjakarta. Hal itu diungkapkan HB X saat pamitan Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU) Marsekal Muda TNI Wayan Superman di kompleks Kepatihan Jogjakarta Senin (23/10).
Husein Sastranegara gugur usai pesawat Cukiu yang dipilotinya jatuh di Penumping, Gowongan, Kota Jogja. Peristiwa itu terjadi pada 26 September 1946.
Waktu itu, Republik Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Itu setelah tentara penjajah Jepang menyerah kepada Sekutu.
Husein Sastranegara, yang lahir pada 20 Januari 1919, bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Bogor. Kemudian bergabung dengan Resimen Kuda di Bandung.
Dikutip dari buku Sejarah TNI Angkatan Udara Jilid I, Husein Sastranegara dipanggil oleh S. Suryadarma untuk membenahi Lapangan Udara Andir Bandung. Tapi, lapangan terbang tersebut diserbu dan dikuasai tentara Jepang.
Kondisi ini membuat Husein Sastranegara dan teman-temannya pindah ke Jogjakarta. Mereka bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) khusus bagian penerbangan.
Saat itu belum ada sekolah penerbangan. Ketika akhirnya dibuka sekolah penerbangan, Husein Sastranegara bergabung menjadi salah seorang siswanya.
Usai lulus pendidikan, Husein Sastranegara diangkat sebagai inspektur merangkap perwira operasi. Perbaikan pesawat-pesawat peninggalan Jepang berhasil dilakukan.
Husein Sastranegara melakukan penerbangan dari Jogjakarta ke Semarang dan Jawa Barat. Itu dilakukan pada 24 sampai 26 Mei 1946.
Pada 26 September 1946, Husein Sastranegara mendapat tugas untuk melakukan test fligh menggunakan pesawat Cukiu. Pesawat tersebut baru selesai diperbaiki.
Pesawat Cukiu terbang di atas Jogjakarta. Tapi, pesawat mengalami kerusakan.
Pesawat itu terjatuh dan terbakar di kawasan Gowongan, Kota Jogja. Husein Sastranegara dan teknisi bernama Rukidi gugur.
Pemerintah memberikan penghargaan atas jasa Husein Sastranegara dengan menaikkan pangkatnya menjadi Komodor Muda Udara.
Namanya juga diabadikan untuk menggantikan nama Lapangan Udara Andir Bandung menjadi Pangkalan Udara Utama Husein Sastranegara.
Editor : Amin Surachmad