RADAR JOGJA - Berkat sosok Adit Doodleman, tumpukan sampah di kawasan Kotabaru segera dibersihkan oleh DLH Kota Jogja.
Di satu sisi, dia menuturkan aksinya hanya merespon apa yang dia lihat dan isu yang berkembang di media sosial.
Saat melintas kawasan Jalan Merbabu Kotabaru itu dia melihat lautan sampah. Hingga akhirnya tergerak untuk menorehkan sebuah karya street art.
Mengenal sosok Adit Doodleman, ternyata adalah seorang guru seni rupa salah satu SMP di Sleman. Jika membuka Instagram miliknya @aditdoodleman maka akan terpampang beragam karyanya. Termasuk respons atas tumpukan-tumpukan sampah di Kota Jogja.
“Kalau karakter khusus tidak ada saya, cuma Doodleman itu saja. Mulai jadi seniman, terjun dunia gambar di jalan dari 2005, dari saya SMA. Background sekarang kerja, dulu kuliah di Seni Rupa ISI,” jelasnya ditemui di Depo Sampah Kotabaru, Senin (9/10).
Pemiihan karakter doodleman dalam setiap karyanya juga memiiki alasan tersendiri. Adit mengaku telah menggambar karakter ini sejak dia masih bocah.
Berawal dari coretan di dinding rumah. Hingga akhirnya memutuskan jadi karakter tetap dalam setiap karyanya.
Sosok Doodleman ini lalu dia kolaborasikan dalam sebuah street art. Uniknya media yang dia pilih tidak sepenuhnya dinding atau tembok. Seperti merespons tumpukan sampah sebagai pengganti kanvas torehan cat.
“Ini masuknya street art. Bisa dikatakan cuma kalau teman-teman fokus tembok, saya merespon ruang publik salah satunya di sampah. Pemilihan Doodleman sebenarnya kebiasaan dari kecil corat-coret. Sedari kecil coret dinding rumah, kenapa tidak pakai Doodleman saja,” katanya.
Baca Juga: Sampah Menggunung di Depo, DLH : Mustahil Dibersihkan hingga Tuntas
Dalam kritiknya tentang sampah, Adit mengibaratkan Doodleman adalah seorang mata-mata. Tujuannya untuk mengawasi warga nakal yang nekat membuang sampah tidak pada tempatnya.
Agar sadar bahwa tindakannya selama ini membuat Jogjakarta semakin darurat sampah.
“Sebenarnya ada beberapa karakter disini karena sesuai dengan tema ya sampah itu. Sampah dikasih mata biar juga bisa mengingatkan yang membuang sampah,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini Adit mengajak masyarakat bijak dalam mengelola sampah. Untuk sampah organik bisa diolah melalui sumur biopori.
Sementara sampah daur ulang dimanfaatkan agar menjadi nilai ekonomi.
“Di ruma bikin dari beberapa galon, masukan sampah limbah rumah tangga disitu. Botol plastik kumpulkan di tempat sendiri lalu jual. Kalau bisa mulai dari sekarang kelola sendiri dan itu lumayan jadi uang,” katanya. (dwi)