Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiktok Shop Juga Hajar Beringharjo, Pedagang Keluhkan Sepinya Pembeli

Winda Atika Ira Puspita • Selasa, 26 September 2023 | 13:50 WIB
PILIHAN: Situasi kondisi Pasar Beringharjo Barat paska dihajar online shop. (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)
PILIHAN: Situasi kondisi Pasar Beringharjo Barat paska dihajar online shop. (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Polemik Tiktok Shop yang disebut-sebut membuat pasar dan UMKM sepi di pusat grosir Tanah Abang Jakarta, juga berimbas ke wilayah Jogjakarta. Sejumlah pedagang Pasar Beringharjo mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa bulan terakhir. Mereka menuding, keberadaan e-commerce menjadi penyebab.

Pantauan Radar Jogja di Pasar Beringharjo kemarin siang (25/9), kondisi pasar masih tergolong cukup dikunjungi pembeli, bahkan turis asing. Tak benar-benar sepi seperti di Pasar Tanah Abang, di mana banyak toko-toko tutup. Namun, sebagian besar pengunjung terlihat melarisi belanjaan di lapak pedagang yang berada di dekat pintu masuk utama.

Sementara di sisi utara dan selatan pasar tertua di Kota Jogja itu, tergolong sepi atau tampak hanya ada segelintir pengunjung yang tengah berbelanja. Di beberapa titik dan sudut pasar, bahkan ada yang tidak disambangi oleh pembeli.

Salah seorang penjual batik di Pasar Beringharjo Nur Khusnul Khotimah mengakui, selama beberapa bulan terakhir ini mengalami penurunan omzet. Ini diduga karena kemunculan e-commerce yang marak menjual lewat live seperti Tiktok Shop, maupun Tokopedia. Terlebih, dengan harga miring produk-produk dari luar negeri.

"Ya ngaruh (live Tiktok Shop), jadi sepi karena online shop. Biasanya ramai, menurun dari ada online-online itu. Dari Tiktok, Tokped, Shopee. Sejak Juli ke sini sudah mulai sepi," katanya saat ditemui di Pasar Beringharjo.

Menurutnya, kondisi pasar sebelum bulan Juli masih ramai. Juli hingga sekarang keadaannya sepi pembeli. Jumlah pembelinya menurun karena kunjungannya juga lengang akibat marak penjualan online dengan harga miring. "Sejak ada online shop, biasanya ramai banyak orang, kini mau jualan susah. Sekarang lengang, mau sepak bola bisa," ujarnya.

Dia menyebut, penurunan omzetnya mencapai 50 persen. Dikatakan, mau beralih ke penjualan online seperti live Tiktok Shop, dia tak miliki banyak waktu karena seharian harus menjaga lapaknya.

Kendati begitu, dia sudah berupaya. Selain menjajakan dagangan secara offline juga menjual secara online. "Nggak ada waktunya, karena kadang kalau sini ramai waktunya nggak ada. Tapi Shopee ada, sebenarnya harus ada batasan jualan online itu,"  tambahnya.

Sementara pegawai toko tas Pasar Beringharjo Yuliani mengatakan hal senada. Namun ia tak mengetahui pasti faktor penyebab penurunan pembeli di lapaknya. Baik karena faktor keadaan atau faktor lain. Namun memastikan bahwa jumlah pembeli berkurang. "Berkurang, dalam arti pembelinya nggak seramai awal-awal," katanya.

Penurunan itu sejatinya terjadi pasca pandemi Covid-19, pun setelah status pandemi dicabut pemerintah. Sebab, kondisi kunjungan ke lapaknya dinilai tak bisa menyamai saat masih normal sebelum pandemi.

"Setelah korona kan turun, saat korona itu juga pernah tutup berapa bulan pasar. Dari situ pembeli mulai jarang,"  tandasnya.

Dia juga tak menampik konsumen tak sedikit yang beralih belanja online. Hal ini diklaim lebih praktis dan penawaran harga lebih murah. Sebab, tak jarang pembeli yang ke lapaknya juga membandingkan dengan harga di online shop yang lebih terjangkau.

"Pembeli sering membandingkan di online segini, kalau di pasar kadang orang lebih malasnya tawar menawar. Mungkin kalau di Tiktok tinggal beli jret," tambahnya. (wia/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#tiktok shop #pasar beringharjo #beringharjo