RADAR JOGJA - Alas Mentaok, dulu, berada di kawasan Kotagede. Hutan tersebut memiliki kaitan erat dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Alas Mentaok yang lebat dijadikan sebagai lokasi Kerajaan Mataram Islam. Pembukaan alas (hutan) itu dilakukan oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani.
Lokasi itu kemudian menjadi sebuah desa. Desa yang diberi Mataram.
Kini, pohon mentaok masih dapat dijumpai di sejumlah tempat. Termasuk, di Kotagede.
Dikutip dari Kehati Pemprov DIY, pohon mentaok memiliki bahasa Latin yakni wrightia javanica A.DC. Pohonnya termasuk keras.
Ukuran diameter barangnya pun bisa lebar. Bisa mencapai sekitar 50 centimeter.
Pohon mentaok memiliki akar tunggang. Akar yang besar, panjang, dan kuat.
Kulit kayu pohon mentaok berwarna cokelat gelap. Kulitnya tampak ada retakan-retakan.
Selain itu, batang pohon mentaok memiliki banyak cabang. Semakin ke atas, cabangnya tampak semakin mengerucut.
Bagian dalam batang mentok atau kayunya cukup padat. Warna kayunya adalah putih.
Sementara itu, daunnya merupakan daun tunggal. Agak membulat dan runcing di bagian ujung.
Pada bagian daun terdapat semacam rambut halus. Terutama, di bagian permukaan daun.
Pohon mentaok memiliki banyak manfaat. Di antaranya, bisa dimanfaatkan sebagian papan alas dan bahan konstruksi.
Selain itu, bisa dipakai untuk membuat pensil dan alat musik. Bahkan, dapat pula dipakai untuk membuat wayang dan warangka keris.
Editor : Jihad Rokhadi