Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Empat Kabupaten di DIY Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan, Hadapi Musim Kemarau

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 18 September 2023 | 00:05 WIB
SALURKAN: Penyaluran air bersih di Sleman. (Dok BPBD Sleman)
SALURKAN: Penyaluran air bersih di Sleman. (Dok BPBD Sleman)

RADAR JOGJA - Empat kabupaten di DIY telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan. Dengan status ini, sebagai upaya antisipasi dan tanda kewaspadaan terhadap bencana kekeringan akibat dari musim kemarau panjang.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY Lilik Andi Aryanto mengatakan, saat ini sudah ada empat kabupaten siaga darurat kekeringan. Pemberlakuan siaga darurat kekeringan ini untuk mengantisipasi lebih awal dampak dari akibat musim kemarau yakni bencana kekeringan.

"Saat ini sudah ada empat kabupaten siaga darurat kekeringan. Semua kabupaten sudah kecuali kota. Kalau yang Kulon Progo tadi menyampaikan baru proses naik, tapi sudah sampai ke bupati," katanya kemarin (17/9).

Lilik menjelaskan terdapat 33 kapanewon atau kecamatan di DIY memiliki potensi terhadap dampak kekeringan atau kesulitan mendapatkan ari bersih selama musim kemarau. Puluhan kapanewon itu tersebar di Kabupaten Bantul, Gunungkidul dan Kulon Progo.

Puluhan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan itu sudah dilakukan bantuan dropping air bersih. Pun setiap kabupaten sudah menyiapkan anggaran sendiri untuk darurat kekeringan yakni untuk memenuhi kebutuhan warga terhadap air bersih. Berkaitan dengan penyalutan air bersih ini melaui Dinas Sosial (Dinsos) DIY. 

"Iya, kalau di DIY sendiri penyaluran bantuan air bersih melalui Dinsos DIY,," ujarnya.

Adapun 33 kapanewon yang terdampak kekeringan tersebar di 3 kabupaten. Di antara 14 kapanewon berpotensi kekeringan berada di Kabupaten Gunungkidul tersebar di 56 kalurahan. Kemudian 9 kapanewon berada di Kulon Progo tersebar di 28 kalurahan dan 10 kapanewon di Bantul terdiri 23 kalurahan.

"Antisipsi sebenarnya itu jangka panjang, kami melalui desa tanggug bencana," jelasnya.

Selain itu, antisipasi lain juga menggelar sosialisasi dengan gerakan memanen air hujan. "Dengan langkah Trap atau tampung resapkan alirkan dan pelihara," terangnya.

Menurutnya, metode itu pada prinsipnya ditujukan untuk menampung terlebih dahulu aliran air hujan sebelum diresapkan maupun dialirkan ke badan penerima air seperti sungai dan laut.

Sehingga, dapat dilakukan penyimpanan semaksimal mungkin pada air hujan melalui fasilitas pemanenan air hujan. "Sosialisasi dengan gerakan memanen air hujan dengan langkah TRAP ini secara kontinyu kami sampaikan," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#radar jogja #darurat kekeringan #Kemarau Panjang #Dinsos DIY #BPBD DIY