Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wujud Harapan Tolak Bala, Warga Cokrokusuman Gelar Kirab Seribu Apem dan Lemper

Annissa Alfi Karin • Senin, 11 September 2023 | 02:49 WIB
SEMARAK: Warga Gondolayu, Jetis, Kota Jogja, mengarak ogoh-ogoh saat melintas di kawasan Tugu Jogja, kemarin (10/9) dalam menyambut Bulan Safar dalam kalender Islam. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
SEMARAK: Warga Gondolayu, Jetis, Kota Jogja, mengarak ogoh-ogoh saat melintas di kawasan Tugu Jogja, kemarin (10/9) dalam menyambut Bulan Safar dalam kalender Islam. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
 
 
RADAR JOGJA - Memasuki bulan Safar akan kalender Islam, warga Jalan Gondolayu Lor, Kampung Cokrokusuman menggelar upacara adat Kirab Budaya Safaran, Minggu (10/9). Gelaran ini dimaknai sebagai wujud harapan tolak bala. Lantaran bulan Safar kerap dipercaya sebagai bulan yang membawa bencana.
 
Ketua RW 11 Gondolayu Lor Sutiyem menjelaskan kirab ini diikuti oleh hampir seribu peserta yang terbagi dalam 26 kelompok. Peserta berasal dari warga Kampung Cokrokusuman dan sekitarnya.
 
Rombongan kirab berkeliling melewati Jalan Sudirman, Jalan AM Sangaji, Jalan Pakuningratan, Jalan Asem Gede, hingga kembali lagi ke titik start di Jalan Gondolayu Lor. Sesampainya di titik finish, ribuan apem dan lemper itu kemudian dirayah oleh masyarakat.
 
Salah satu kelompok turut menunjukkan hasil kreativitasnya berupa ogoh-ogoh.
 
SEMARAK: Warga Gondolayu, Jetis, Kota Jogja, mengarak gunungan berisi apem melintas di kawasan Tugu Jogja Minggu (10/9) menyambut Bulan Safar dalam kalender Islam. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
SEMARAK: Warga Gondolayu, Jetis, Kota Jogja, mengarak gunungan berisi apem melintas di kawasan Tugu Jogja Minggu (10/9) menyambut Bulan Safar dalam kalender Islam. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
 
"Ogoh-ogoh yang diusung itu simbol keangkaramurkaan yang bisa dikalahkan dengan gotong royong dan kerukukan sesama warga," ujar Sutiyem saat ditemui di Jalan Gondolayu Lor, Minggu (10/9).
 
Selain ogoh-ogoh, kirab budaya Safaran ini juga dimeriahkan dengan gunungan seribu apem dan lemper. Menurut Sutiyem, apem diambil dari kata Afuwwun yang artinya maaf-memaafkan. Meski dijuluki seribu apem, tapi jumlah yang tersedia mencapai dua ribu apem.
 
 
"Sementara kalau lemper kan terbuat dari ketan. Itu filosofinya untuk merekatkan hubungan persaudaraan," tambahnya.
 
PJ Wali Kota Jogja Singgih Raharjo turut hadir melepas rombongan pawai. Dia mengaku mengapresiasi warga Kampung Cokrokusuman yang mampu menggerakkan hingga ribuan orang itu.
 
"Ini merupakan salah satu upacara adat yang terus dilestarikan. Di tengah pengaruh budaya dari luar, warga Gondolayu Lor tetap terus melestarikan budaya," ujarnya. (isa)
Editor : Amin Surachmad
#bulan Safar #radar jogja #ogoh-ogoh #tolak bala