RADAR JOGJA - Anggota Komisi IX DPR RI Sukamto punya tersendiri mengkampanyekan pencegahan stunting. Dia tidak banyak menyampaikan materi. Namun Sukamto memilih mengajak peserta sosialisasi joget dan menyanyikan beberapa lagu. Salah satu yang dipilih adalah lagu berjudul Aja Dibandingke karya Abah Laga. Tahun lalu lagu itu pernah dinyanyikan penyanyi cilik Farel Prayoga saat upacara peringatan kemerdekaan di Istana Negara Jakarta.
“Ayo siapa yang bisa menyanyikan lagu Aja Dibandingke, maju ke depan. Ada hadiahnya,” ucap Sukamto di depan sekitar 200 peserta Sosialiasi Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana BKKBN di gedung Serbaguna Banyumeneng, Banyuraden, Gamping, Sleman, Rabu (30/8). Sosialisasi itu bertema “Memerdekakan Anak Indonesia dari Stunting,”.
Tak lama setelah muncul ajakan itu, tiga orang ibu maju ke depan. Tidak semua menuruti permintaan Sukamto. Ada yang justru melantunkan tembang lawas Sepanjang Jalan Kenangan dan lagu Jawa karya alm. Didi Kempot berjudul Tatu. Baru pada permintaan ketiga, ada yang menyanyikan lagu Aja Dibandingke sesuai permintaan Sukamto.
“Yang sudah nyanyi Aja Dibandingke saya tambahi, bonus,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah amplop putih.
Kepada peserta sosialisasi, Sukamto menyampaikan sejumlah tips mencegah stunting. Di antaranya, agar tidak stunting jangan menikahkan anak saat masih terlalu muda. Di bawah usia 19 tahun. Kemudian tigabulan sebelum menikah supaya memeriksakan kesehatannya ke puskesmas.
“Setelah hamil setiap hari makan satu telur. Anaknya juga makan minimal satu telur sehari. Jika punya balita biasakan mengonsumsi telur,” pintanya.
Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja H Sukamto SH Anggota Komisi IX DPR RI, Rabu (30/8/2023), di Gedung Serbaguna Dusun Banyumeneng Banyuraden Gamping Sleman. Memerdekaan Anak Indonesia dari Stunting.
Analisis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Bina Ketahanan Remaja BKKBN Asep Sopari mengatakan, masih ada balita belum merdeka dari kekurangan gizi. Dalam setahun lahir 44 juta bayi di Indonesia. Dari angka itu, sejumlah 21,6 persen lahir dalam kondisi stunting.
“Bayi 7 bulan belum bisa merangkak. Lalu umur setahun belum bisa ucapkan kata- kata. Ini indikasi stunting,” ulasnya.
Dikatakan, jika otak anak stuting dibedah, lebih kecil dibanding anak sehat. Jaringan otak anak stunting lebih sedikit. Perlu banyak distimulasi. Asep menerangkan bahaya dan penyebab stunting. Berawal dari asupan gizi kurang. Terutama energi dan protein sejak dalam kandungan sampai 2 tahun setelah dilahirkan. “Jangan sampai balita kurang gizi. Periode emas. 9 bulan kehamilan minimal enam kali diperiksa,” ungkap Asep.
Apakah stunting bisa diobati? Asep kembali menerangkan, sampai usia 2 tahun masih bisa diperbaiki. Lebih dari 2 tahun bisa tapi agak sulit. “Satu satunya cara untuk tidak stunting adalah mencegahnya,” katanya.
Pejabat Bidang Adpin Perwakilan BKKBN Provinsi DIY Rohdiana Sumariati mengingatkan, kalau punya bayi di bawah 2 tahun agar dibawa ke posyandu setiap sebulan. Dengan dibawa ke posyandu bakal rutin menjalani pemeriksaan.
Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman Wildan Sholichin menambahkan, jangan mengabaikan dan meremehkan stunting. Sebab, bisa hambat pertumbuhan fisik dan kecerdasan. Dikatakan, di Sleman 15 perswn angka stunting, 95 persen dari keluarga tidak miskin. “Artinya stunting tak identik dengan kemiskinan,” ungkap dia.
Diingatkan agar ibu-ibu memerhatikan nutrisi. Anak-anak dibiasakan doyan sayur. Jangan hanya makan junk food terus. Tidak suka sayur agar dipaksa suka.
Dari delapan determinan yang mempengaruhi stunting, ada pengaruh dari rokok. Sebanyak 64 persen anak Sleman yang mengalami stunting dari keluarga perokok. “Tolong merokok yang bertanggung jawab. Kami tidak bisa melarang. Jangan merokok di samping istri yang hamil atau anak-anak,” pintanya. (kus)