Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Sukses TPST Karangmiri Jogja: Optimalkan Maggot Jadi Pakan Lele, Tiap Hari Urai Sampah Organik 30 Kg

Annissa Alfi Karin • Minggu, 20 Agustus 2023 | 22:30 WIB
MBAH DIRJO: Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo (bertopi putih) mengunjungi SD Karangmiri yang kini berubah fungsi menjadi TPST, Minggu (20/8). (Dok Pemkot Jogja)
MBAH DIRJO: Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo (bertopi putih) mengunjungi SD Karangmiri yang kini berubah fungsi menjadi TPST, Minggu (20/8). (Dok Pemkot Jogja)

 

JOGJA - Masyarakat Kota Jogja terus berinovasi mencari cara untuk mengolah sampah, baik organik, anorganik, maupun residu. Selain gerakan Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja (Mbah Dirjo) yang dicanangkan oleh Pemkot Jogja, masyarakat juga mulai memanfaatkan magot dalam pengolahan sampah organik.

Salah satunya diterapkan di TPST Karangmiri, Giwangan, Kota Jogja. Selain punya manfaat mengurai sampah organik, magot di TPST Karangmiri selanjutnya juga diolah menjadi pakan lele saat panen tiba.

Ketua Kelompok Magot Lele Kampung Karangmiri RW 08 Priyono menyebut TPST Karangmiri mengolah sisa hasil rumah tangga. Utamanya dari RT 22, 23, dan 24.

Dalam satu hari, setidaknya ada 30 kg sampah organik dari ketiga RT tersebut. Selanjutnya, sampah-sampah tersebut menjadi makanan magot.

"Dari hasil magot ini kita jadikan makanan lele dan ikan lainnya. Bahkan kita kembangkan untuk membuat pelet dari bahan magot tersebut," katanya, Minggu (20/8).

Selain sampah dapur, sampah organik kering juga turut diolah di TPST Karangmiri. Misalnya sampah daun kering atau sampah ranting. Sampah kering diendapkan dan dijadikan kompos tanaman yang dijual atau diberikan kepada warga sekitar.

"Selama ini sampah jadi masalah. Ini butuh perhatian dari kita agar sampah diolah dengan sedemikian rupa. Agar nantinya sampah setelah diolah jadi berkah dan menjadi rezeki di wilayah kita," tambah Priyono.

Salah satu warga RW 08 Giwangan Purbudi Wahyuni menuturkan warga Karangmiri telah memiliki kesadaran dalam mengolah sampah rumah tangganya. Warga juga rajin membawa sampah dapurnya masing-masing ke TPST Karangmiri untuk selanjutnya menjadi makanan magot.

"Warga rajin memilah sampah anorganik dan organik karena kami sudah melakukan sejak lama, dan sudah ada ember di setiap rumah. Jika sampah sudah terkumpul warga akan langsung menyetorkan ke sini. Semoga program ini berkelanjutan dan akan ada penambahan alat untuk memaksimalkan pengelolaan sampah di TPST Karangmiri," kata Purbudi.

Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo mengaku mengapresiasi pengolahan sampah yang dilakukan di TPST Karangmiri. Dia menilai, pengolahan sampah terbilang rapi dan inovatif. Dia juga mengapresiasi kemandirian dan kesadaran warga dalam mengolah sampahnya masing-masing.

"Ini sangat luar biasa. Pengelolaan sampah yang lumayan cukup lama dan kita akan pelajari terlebih dahulu. Kemudian kita kembangkan menjadi tempat menyelesaikan sampah terutama di Kelurahan Giwangan," ujar Singgih.

Menurutnya, masih ada lahan kosong yang bisa dimanfaatkan warga Kampung Karangmiri untuk mengolah sampah hingga ke tingkat kelurahan. Dia berharap pengelolaan sampah di TPST Karangmiri terus berkembang. Sehingga nantinya dapat memberikan manfaat. Juga dapat menjadikan Kampung Karangmiri sebagai destinasi edukasi pengelolaan sampah.

"Masih ada satu lahan bekas ruang kelas (SD Karangmiri) yang bisa digunakan. Potensinya cukup bagus dan ini bisa dikembangkan untuk menyelesaikan permasalahan sampah di satu Kelurahan Giwangan," ungkapnya. (isa)

Editor : Amin Surachmad
#TPST #mengelola sampah #Singgih Raharjo