Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen DKV Sebut sebagai Simbol Eksistensi Negara

Wulan Yanuarwati • Selasa, 8 Agustus 2023 | 21:10 WIB
MUSIMAN: Penjual bendera merah putih mulai menggelar lapak di seputar Jalan Mataram Jogja kemarin (7/8). WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA
MUSIMAN: Penjual bendera merah putih mulai menggelar lapak di seputar Jalan Mataram Jogja kemarin (7/8). WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA

JOGJA - Penjual bendera kebangsaan merah putih mulai menjamur di sejumlah ruas jalan di DIJ. Fenomena ini selalu terjadi menjelang perayaan HUT ke-78 RI.

"Bendera itu sebetulnya simbol untuk eksistensi sebuah negara," tegas Dosen Komunikasi Visual MMTC Jogja Atmaja Septa Miyosa kemarin (7/8).

Dalam berbangsa dan bernegara, Septa menyebut, suatu negara membutuhkan simbol tertentu. Tujuannya untuk menyamakan persepsi dan sebagai pengingat perjuangan terdahulu. Simbol dijadikan sebuah identitas penting suatu negara, agar tidak anonim.

"Negara butuh suatu alat untuk menyamakan persepsi, waktu itu pendiri negara memikirkan bagaimana kalau sang saka, warna merah dan putih dijadikan simbol," bebernya.

Dalam istilah desain komunikasi visual, Septa menyebut istilah semiotika. Warna sang saka dipilih merah putih karena ada hubungan dengan bendera-bendera sebelumnya. Tepatnya bendera kerajaan zaman dulu. Misalnya saja bendera di Keraton ada warna hitam, hijau, kuning dan merah putih.

"Kita ini menciptakan negara dengan merah, itu dengan keberanian dan semangat dan optimisme dibalut dan dibekali dengan hati yang bersih, suci, tulus dan ikhlas (putih, Red)," tuturnya.

Septa juga mengungkapak, bendera praktis digunakan sebagai sebuah simbol. Dibandingkan dengan simbol lain, seperti gapura pembatas wilayah maupun nyanyian.

Menurutnya sudah sejak lama, suatu negara butuh semacam panji-panji seperti itu. Maka dicarilah berbagai referensi, dan akhirnya dipilihlah merah putih yang mewakili semangat perjuangan. Hal itu pun saat Indonesia belum merdeka.

"Dulu banyak perang. Asal target dikasih bendera kita, maka dianggap sudah dikuasai," lontarnya.

Maka, Septa mengatakan pengibaran bendera sebetulnya tidak hanya dilakukan saat Agustus saja. Karena sebagai simbol nasionalisme dan kebanggaan, harus terus dipupuk melalui simbolik tertentu.

Seorang pembeli atribut bendera merah putih di seputar Jalan Mataram, Jogja Supri mengaku, membeli satu bendera ukuran sedang. Dia juga membeli bendera plastik untuk pernak-pernik yang akan dipasang di lingkungan rumah. "Sudah punya yang tahun kemarin tapi kok warna putihnya menguning. Jadi beli saja biar bagus dan anyar," ujarnya. (lan/eno)

Editor : Satria Pradika
#Penjual Bendera #DIJ #Atmaja Septa Miyosa