Taukah kamu, Sungai Dengkeng di Kabupaten Klaten punya cerita menarik lho. Konon dikaitkan dengan tongkat Sunan Kalijaga. Saat Sunan Kalijaga menelusuri tanah Jawa, di sepanjang perjalanan tongkatnya diseret. Sehingga terbentuklah Kali Dengkeng.
MEITIKA CANDRA LANTIVA, Klaten, Radar Jogja
Kisah ini berdasarkan cerita masyarakat setempat. Saat Sunan Kalijaga mengembara menyiarkan agama Islam di Pulau Jawa, sembari berjalan kaki, dia membawa tongkatnya. Tongkat itu dibawa dengan diseret.
Konon, arahnya dari Banyubiru, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo menuju Demak. Saat tongkat di seret, kemudian air mengalir mengikuti tongkat tersebut. Lambat laun, air yang alirannya hanya sejengkal menjadi deras. Dan terbentuklah sungai.
"Dulu Kali Dengkeng tidak lurus seperti sekarang ini. Tapi, berkelak-kelok," ungkap Jamiyem, 90, dengan logat bahasa Jawa-nya kepada Radar Jogja, Rabu, 26 Juli 2023.
Berdasarkan cerita leluhur, ungkap Jami, disebut Dengkeng karena alurnya yang berkelok-kelok. Jamj menyebutnya kelak-kelok aliran sungai itu menyerupai ular.
Dulunya, Kali Dengkeng membelah sejumlah desa pinggiran Klaten paling timur perbatasan Kabupaten Sukoharjo. Desa tersebut antara lain, Desa Tumpukan, Desa Karangjoho, Desa Lembuputih, Kecamatan Karangdowo, Klaten. Serta Desa Kedungjambal dan Desa Jonggolan, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo.
Perempuan berusia hampir se-abad itu menceritakan kondisi Kali Dengkeng saat itu. Dia ingat betul saat masih muda dia turut memanfaatkan sungai tersebut. Begitu juga masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Menurutnya saat itu sedang jaya-jayanya sungai.
"Airnya bersih, ikannya pun banyak," sebut Jami, sesepuh Dusun Jitengan, Karangjoho, Karangdowo, Klaten itu.
Saat itu, banyak orang memanfaatkan Kali Dengkeng untuk keperluan sehari-hari. Seperti mandi, mencuci baju, memandikan ternak seperti sapi dan kerbau hingga buang hajat. Warga pinggiran kali membuat pangkringan (semacam WC darurat) kemudian ditutupi dengan nam-naman blarak (anyaman dari daun kelapa).
"Nggak perlu kawatir kalau nggak ada lauk. Tinggal ke Kali Dengkeng nyari ikan. Tak perlu kerandah atau jaring ikan. Cukup dengan tangan kosong," kata Jami. Jami ingat betul, bekas telapak kaki manusia sering kali menjadi tempat persembunyian ikan.
"Di setiap musim ikan tak pernah kendor. Apalagi saat musim hujan tiba. Sampai-sampai ikan yang mendatangi rumah warga," ujarnya disertai tawa.
Dulu, ujar Jami, suasana sungai sangat asri. Sampah sungai hanya dedauan dan ranting pohon di sekitar sungai. Selain itu banyak pepohonan besar tumbuh teduh di tepiannya. Pemandangan dulu, sulit ditemui di era sekarang.
Cerita masyarakat dengan versi lain diterangkan, perjalanan Sunan Kalijaga tak lepas dari topo broto. Konon katanya, wali songo yang memiliki gelar sebagai Raden Mas Syahid itu melakukan topo broto di Puncak Merapi. Dia menancapkan tongkatnya. Setelah tongkat itu dicabut, muncul mata air yang sekarang ini menjadi Kali Woro. Mata air idari Kali Woro itu kemudian mengarah ke arah tenggara mengitari bumi Klaten hingga ke Kali Dengkeng, menuju utara bermuara ke sungai Bengawan Solo. Itu sesuai langkah Sunan Kalijaga.
Sementara itu Sukadi, 56, warga Desa Karangjoho menambahkan, seiring berjalannya waktu, Kali Dengkeng kemudian diluruskan. Kelokan Kali Dengkeng di pangkas mulai dari Desa Bogor, Kecamatan Cawas, Klaten hingga Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo untuk dibuat tanggul.
"Alasan diluruskan dan dibuat tanggul itu, karena (Kali Dengkeng, Red) sering banjir. Sehingga banyak warga yang tak tenang, mengungsi ke lahan atau rumah warga yang lebih tinggi," ceritanya.
Genangan banjir di musim hujan, menyebabkan paceklik. Saat itu warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani mengalami gagal panen. Hingga awal pemerintahan Presiden Soeharto, dibangunlah tanggul tersebut.
"Hasilnya ya tanggul sekarang ini," bebernya.
Pelurusan Kali Dengkeng itu dilakukan sekitar tahun 1969. Diawali dengan penyusunan rencana pembangunan lima tahun pertama (Repita I) di era Presiden Soeharto. Kemudian baru 1970 dilakukan pembangunan. Pembangunan tanggul itu berjalan berkisar tiga sampai empat tahun. Pada 1971 air sudah mengalir namun sungai belum sempurna. "Pada 1973 sungai sudah jadi," terangnya.
Pembangunan tanggul dan sungai itu dilakukan oleh masyarakat sekitar melalui program padat karya. Setelah sungai jadi, masyarakat bergotong royong membangun jembatan sesek untuk memudahkan akses antara Desa Karangjoho dengan Desa Tambak.
"Saat itu, bapak saya juga terlibat dalam pembangunan tanggul dan sungai tersebut. Menurut cerita bapak saya, dulu tenaga pembangunan (tanggul Kali Dengkeng, Red) juga dibayar tapi awalnya bukan uang," tuturnya.
Lanjut dia, bayaran awal itu diberi upah beras tekad. Yakni beras buatan dari ketela, kacang dan jagung. Kemudian beras glugur atau dikenal dengan beras abang yang katanya dari luar negeri.
Lalu gaplek pohong (singkong). Barulah diupah uang. Upah tersebut dihitung berdasarkan luasan per satu meter.
Pasca Pemilihan Umum tahun 1982, yang kala itu dimenangkan oleh Partai Golongan Karya. Atas nama Gubernur Jawa Tengah Muhammad Ismail memberikan hadiah jembatan, masjid dan sejumlah uang tunai. Lantas jembatan tersebut menjadi penghubung di tanggul Kali Dengkeng itu. Persisnya berada di Dusun Jitengan menghubungkan Dusun Sarimulyo, Desa Karangjoho. (mel)