Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wujudkan Sepuluh Desa Percontohan Mandiri Sampah, Atasi Penutupan TPST Piyungan Selama 1,5 Bulan

Winda Atika Ira Puspita • Minggu, 23 Juli 2023 | 20:02 WIB
OVER CAPACITY: TPA Piyungan Bantul yang sudah berusia hampir 30 tahun. (Radar Jogja File)
OVER CAPACITY: TPA Piyungan Bantul yang sudah berusia hampir 30 tahun. (Radar Jogja File)

JOGJA - Sebanyak 10 desa percontohan mandiri sampah akan diwujudkan tahun ini, yaitu pengelolaan sampah dari hulu melalui optimalisasi TPS 3R. Ini menyusul kondisi lahan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) semakin terbatas.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kuncoro Cahyo Aji mengatakan, penutupan TPST selama 1,5 bulan dari 23 Juli hingga 5 September itu untuk menyiapkan tampungan baru yakni landfill zona transisi 2.

Sembari penataan di area zona A dan B. Ini karena volume timbulan sampah yang masuk ke TPST telah melebihi kapasitas.

"Itu menunggu bangunan (landfill zona transisi 2) PU-nya selesai. Penataan di A, B mugo-mugo masih bisa turun sehingga bisa kita buka lagi. Pada prinsipnya memang ditata dan menunggu bangunannya selesai," katanya kemarin (23/7).

Kuncoro menjelaskan hanya memang harus sudah dipersiapkan dan saatnya untuk pengelolaan sampah di hulu. Dan sampah yang dibuang ke TPST hanya sampah residu saja yang tidak bisa diolah. Dengan pendekatan pengelolaan 3R yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle.

"Nah  di tahun ini ada 10 desa percontohan bahwa mandiri sampah. Jadi memang harus kita persiapkan lewat optimalisasi TPS 3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle)," ujarnya.

Adapun 10 desa percontohan mandiri sampah tersebut berada di Bantul meliputi Wirokerten, Tamanan, Srigading, Srihardono. Sementara di Sleman meliputi Sinduharjo, Sardonoharjo, Puriharjo, Purwomartani dan Minomartani serta Pandowoharjo.

Di desa-desa tersebut sudah memiliki satu atau bahkan dua TPS 3R yang aktif. Pun sejatinya ketika lebih banyak TPS 3R yang aktif maka desa itu diklaim harusnya bersih dari sampah.

"Ini kalau berjalannya (pengelolaan sampah di desa) sudah, hanya baru sekitar 30an persen. Kami akan tingkatkan 70an persen lagi (sampah yang bisa diolah di TPS 3R) sehingga 100 persen di desa itu akan selesai penanganan sampahnya," jelasnya.

Menurutnya, kapasitas TPS 3R yang dimiliki desa memang rata-rata baru mampu menyelesaikan 30 persen sampah yang diolah jika dihitung asumsi jumlah penduduk per padukuhan yang ada.

Namun, pihaknya akan membantu agar bisa menyelesaikan 70 persen sisanya, sehingga dtargetkan bisa 100 persen sampah terkelola di Badan Usaha Milik Kelurahan (BUMKal). "Sisanya yang 70 persen kita bantu dalam pengembangan TPS 3R yang ada, melalui pemberian alat, kemudian alat transportasi," terangnya.

Kuncoro menyebut prosesnya diawali dari jajaran desa dan kalurahan mereka mempunyai kewajiban untuk mengeluarkan sampah rumah tangga dari dapur ke depan pintu masing-masing rumah. Masing-masing sumber sampah sudah secara terpilah.

Kemudian dari depan pintu akan masuk ke TPS 3R sehingga sampah rumah tangga yang terpilah tadi akan selesai di TPS 3R tersebut.

"Kenapa TPS 3R, karena yang areanya sudah ada tanahnya sudah ada, anggarannya sudah ada, alatnya juga sebagian sudah ada sehingga kita tinggal menambah alat dan alat transportasi dari rumah ke TPS 3R itu," sambungnya.

Selanjutnya, agar program bisa berkelanjutan maka pengelolaan ini harus dalam satu manajemen terpadu. Ketika ada bank sampah, pun harus dalam satu manajemen pada satu unit persampahan yang ada di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) maupun BUMKal. "Jadi nantinya ada unit usaha BUMKal dibidang persampahan," tambahnya.

Pun hal itu juga bisa sebagai upaya untuk mengantisipasi depo-depo sampah membludak seiring TPST masih ditutup. Ini juga dianggap sebagai momentum untuk mulai menggerakkan kesadaran masyarakat memilah sampah mulai dari rumah tangga.

"Sekarang mau tidak mau, ya, kita kan dorong untuk mengelola dulu di sumber artinya ya masyarakat harus disiapkan untuk pilah sampah. Karena mau tidak mau kalau tidak pilah sampah ya ndak selesai-selesai persoalan sampah itu," katanya.

Sementara, zona transisi dua diperkirakan akan siap digunakan pada 6 September mendatang. Area zona A dan B disebut sudah tidak mungkin mampu menampung sampah dan over kapasitas. Sementara zona transisi 1 daya tampungnya tinggal 10 persen.

"Ini dianggap aja untuk latihan sementara kami menata sampah di TPA Piyungan ya bagi masyarakat untuk latihan dulu pilah sampah karena suatu saat nanti pada titik tertentu harus sudah pilah sampah," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#TPST #TPST 3R #zona