MAGELANG - Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggenjot lahirnya petani dan penyuluh untuk menjadi pilar utama perekonomian Indonesia. Oleh karenanya, Kementan bakal menggelar kegiatan pelatihan sejuta petani dan penyuluh dengan tema Pertanian Ramah Lingkungan pada 26 Juli 2023 mendatang di Ketindan, Jawa Timur.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, belakangan ini, peran pertanian dinilai sangat penting. Utamanya sebagai penyangga kecukupan pangan. Sehingga diperlukan peningkatan kapasitas petani dan penyuluh pertanian supaya menambah kompetensi sumber daya manusia (SDM) pertanian secara masif.
Dia menyebut, SDM pertanian berkualitas termasuk prioritas Kementan. Sebab, target produktivitas tinggi harus diberikan. Tujuannya mendukung program ketahanan pangan nasional. Untuk itu, pelatihan penyuluh dan petani harus diberikan karena pertanian sangat dinamis.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Kementan Dedi Nursyamsi menuturkan, petani modern memanfaatkan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas. Dengan begitu, harapannya dapat mendongkrak kemandirian petani dengan pemanfaatan teknologi pertanian yang optimal.
Kementan juga telah menyusun kurikulum untuk pelatihan sejuta petani dan penyuluh. Terutama bagaimana kebijakan-kebijakan Kementan terkait pertanian ramah lingkungan hingga berbagai inovasi teknologinya.
"Misal bagaimana kita mengelola air sawah agar tidak menggenang terus. Kita gunakan juga varietas yang rendah emisi,” ujarnya, saat konferensi pers, Jumat (21/7).
Dedi menambahkan, output dari pelatihan ini adalah mengubah mindset petani agar melahirkan produk pertanian yang ramah lingkungan. Penyuluhan juga harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Sebab, pembangunan pertanian identik dengan peningkatan produktivitas. Satu di antaranya dengan cara smart farming.
Pertanian ramah lingkungan ini, lanjut dia, sudah lama didengungkan. Namun, implementasinya tidak mudah. Termasuk produktivitas yang tidak konsisten.
“Kita harus kembali ke pengolahan pertanian yang bijak dan bersahabat. Ini berarti pelatihan dan penyuluhan yang harus dilakukan,” imbuhnya. (aya)
Editor : Amin Surachmad