SOLO - Tahun Baru Jawa 1 Suro 1957 ditandai ritual khusus di Keraton Kasunanan Surakarta. Tepat pukul 00.00, Kamis (20/7/2023), lonceng keraton berbunyi sebanyak 12 kali. Itu menandakan rombongan kirab kebo bule dan pusaka Keraton Kasunanan Surakarta harus segera beranjak dari halaman Kori Kamandungan.
Putra mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Kanjeng Gusti Adipati Anom (KGPAA) Sudibyo Raja Putra Narendra Ing Mataram atau akrab disapa Pangeran Purboyo berada di barisan depan sebagai cucuk lampah. Sedangkan barisan terdepan adalah lima ekor kebo bule.
Pangeran Purboyo mengenakan beskap dan blangkon warna hitam yang dipadu dengan kain jarit motif parang yang hanya boleh dikenakan oleh keluarga raja. Sambil membawa sebilah keris pusaka yang dipayungi oleh abdi dalem.
Tanpa alas kaki, seluruh peserta kirab tak berbicara atau disebut topo bisu di sepanjang rute yang dilintasi.
Ini merupakan cerminan instropeksi diri agar masa depan jadi lebih baik
"Peserta kirab berjalan sepertiga malam untuk mengheningkan diri. Mengoreksi kesalahan di masa lalu, berjanji tidak mengulangi kesalahan, dan berharap tahun depan lebih baik," terang Wakil Pengageng Sasana Wilapa KP Dani Nur Adiningrat sebelum kirab berlangsung.
Selama prosesi kirab, sejumlah abdin dalem Keraton Kasunanan Surakarta menggelar doa bersama di lokasi berbeda. Di antaranya Masjid Agung Keraton Surakarta. "Intinya semua berdoa. Ada yang berdoa sambil kirab, ada yang di Masjid Agung, ada juga yang di Bandengan (kompleks Keraton Kasunanan Surakarta)," imbuh Dani. (ves/wa)
Editor : Amin Surachmad