JOGJA - Khusniyati merupakan Ketua Umum Pertama di Persatuan Mahasiswa Pencinta Tanah Air Indonesia (PMPI). Lewat jabatannya itu, ia bisa melalang ke berbagai kampus di Indonesia.
Mahasiswi asal Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tersebut mengaku berkegiatan sebagai Ketua DPP PMPI sangat menantang. Ia harus safari wilayah untuk bertemu dan mendengar curhatan kawan-kawan dari berbagai lintas iman dan suku.
PMPI merupakan orgnisasi mahasiwa yang berembrio dari PETANESIA (Pencinta Tanah Air Indonesia) yang terbentuk sejak 2005 lalu.
PETANESIA didirikan Habib Luthfi Bin Yahya yang merupakan sosok ulama kharismatik asal Pekalongan. Menurut Khusniyati, Habib Luthfi mendirikan PETANESIA karena adanya kelunturan dari nasionalisme.
"PETANESIA didirikan untuk membangkitkan pecinta Merah Putih serta untuk membantu ekonomi hingga Pendidikan dengan anggota dari Sabang sampai Merauke," katanya kemarin (17/7) kepada Radar Jogja.
Khusni menceritakan pertama kali ketemu Habib Luthfi saat di warung kopi. Ketika itu, ia masih menjadi mahasiswa. Pada waktu itu juga, Khusni dipanggil untuk gabung ke PETANESIA oleh Habib Luthfi.
"PETANESIA ini hadir untuk menangkal paham radikalisme yang ada di perguruan tinggi seluruh Indonesia," ujarnya.
Khusni merupakan aktivis perempuan yang baru menamatkan Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namanya sering menghisasi surat kabar serta televisi, yang mana ia juga sering mengisi seminar-seminar diberbagai daerah.
Menurut Khusni, paham radikal itu sendiri sudah jarang ada di setiap perguruan tinggi. Tapi menurutnya hal itu harus dicegah sejak dini.
Khusniyati membeberkan, tujuan dari PETANESIA adalah untuk membumikan keberagaram yang ada di Pancasila. Mulai dari sila pertama sampai sila kelima yang harus benar-benar dihayati dan makanai secara saksama.
"Apalagi era seperti ini, yang katanya memiliki arus teknologi sangat kencang dengan berbagai dinamika yang ada. Tapi, bagaimana ketimpangan-ketimpangan yang hadir di daerah harus diselesaikan secara saksama," ungkap Khusni.
Khusni menjelaskan, ketimpangan seperti itu harus diurai dan diselesaikan bersama. Sebab, PMPI hadir sebagai Rumah Kebhinekaan, dan ketika ada ketimpangan yang muncul, mereka secepatnya untuk menyelesaikannya.
"Sebab kalau bukan kita siapa lagi," tegasnya.
Khusni juga berharap agar PMPI mampu menjadi garda terdepan untuk menangkal radikalisme di lingkup perguruan tinggi.
"Sebab semangat kebhinnekaan mampu membawa mahasiswa tidak mudah terhasut isu-isu perpecahan," (ayu)
Editor : Amin Surachmad