JOGJA - Usulan pemindahan makam Pangeran Diponegoro oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menuai beragam pembicaraan. Raja Keraton Jogja, Hamengku Buwono (HB) X tidak sepakat dengan usulan tersebut.
Lantas, segala sesuatu yang berhubungan dengan Pangeran Diponegoro menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Salah satunya ialah Babad Dipanegara. Karya yang ditulis pangeran bernama asli Bendara Raden Mas Mustahar, sebelum akhirnya diubah menjadi Raden Mas Ontowiryo.
Babad Dipanegara sudah diakui sebagai manuskrip yang sangat penting. Ditetapkan sebagai Memory of The World atau Ingatan Kolektif Dunia oleh UNESCO sejak 2013. Babad Dipanegara ditulis saat diasingkan di Sulawesi Utara pada 1831-1832.
Babad Dipanegara tebalnya 1.151 folio, disusun secara kronik. Babad Dipanegara ditulis dalam aksara pegon, dalam waktu kurang dari sembilan bulan. Pangeran Diponegoro dibantu oleh seorang juru tulis Jawa yang identitasnya tidak diketahui hingga saat ini.
Babad Dipanegara berisi hal-hal yang sangat penting untuk kemajuan intelektual Indonesia, khususnya terhadap pemahaman budaya Jawa masa lalu dan kini. Berisi banyak hal penting mulai dari sejarah Jawa hingga penyebab langsung terjadinya perang Jawa.
Babad Dipanegara juga berisi penjelasan sejarah Jawa yang dimulai pada masa Kerajaan Majapahit, kemudian Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati hingga Sultan Agung. Termasuk, politik Belanda atas Keraton Jogja.
Babad juga berisi otobiografi Pangeran Diponegoro mulai dari lahir di Keraton Jogja, masa kecil di Tegalreja. Tinggal bersama buyutnya dan bergaul bersama dengan para petani, hingga belajar agama Islam dari ulama setempat.
Pada babad juga dijelaskan penyebab langsung perang Jawa dan gejolak hati Pangeran. Selain itu juga menceritakan tentang perjuangan lima tahun Pangeran Diponegoro melawan Belanda dan para sekutu Jawa.
Sebelumnya, Raja Keraton Jogja, Hamengku Buwono X merespons usulan Menhan Prabowo Subianto yang akan memindahkan makam Diponegoro ke tanah kelahirannya. Menurunnya, hal itu tidak diperlukan.
"Kalau saya, nggak usah," ujarnya, Jumat( 4/7/2023).
Menurut ayah lima puteri ini, warga Makassar sangat menghargai makam tersebut. Dan merawat dengan baik, sehingga tidak perlu dipindahkan.
"Masyarakat di Makassar juga menjaga, saya kira tidak perlu harus diputar ke Jogja. Masyarakatnya menghargai (Pangeran Diponegoro) di sana," ujarnya.
Sementara itu, usulan pemindahan Makam Pangeran Diponegoro mencuat hari sebelumnya. Saat Menhan Prabowo Subianto berbicara pada Rakernas Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), Kamis (14/7/2023) di Kota Makassar.
"Di sini, di kota ini (Makassar,red) juga ada makam Pangeran Diponegoro yang dibuang dari daerah asalnya. Dan, tidak ada salahnya kita berpikir apakah tidak di alam merdeka, tentunya dengan seizin rakyat Sulawesi Selatan, apakah tidak ada baiknya kita kembalikan makamnya Pangeran Diponegoro ke kampung halamannya lagi," jelas Prabowo.
Pangeran Diponegoro lahir pada 11 November 1785, anak dari Hamengku Buwono III. Pangeran Diponegoro merupakan pahlawan Nasional, memimpin Perang Jawa periode tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda.
Diketahui, Perang Jawa tercatat sebagai Perang yang besar dengan korban jiwa terbanyak dalam sejarah Indonesia. Yakni, dan 7.000 pribumi dan 8.000 serdadu Hindia Belanda, dan 200 ribu orang Jawa terdampak. Dengan kerugian mencapai 25 juta Gulden dan membuat ekonomi Belanda mengalami kerugian besar. (lan).
Editor : Amin Surachmad