Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sate Ayam Noto Taman yang Legendaris sejak 1963

Gunawan RaJa • Minggu, 16 Juli 2023 | 16:00 WIB
TETAP EKSIS: Havid, putra Uji Rahmani yang membantu memanggang sate di kios neneknya Sate Ayam Kampung Noyo Taman di depan Pasar Argosari Wonosari Jumat (14/7/23).
TETAP EKSIS: Havid, putra Uji Rahmani yang membantu memanggang sate di kios neneknya Sate Ayam Kampung Noyo Taman di depan Pasar Argosari Wonosari Jumat (14/7/23).

RADAR JOGJA - Sate menjadi salah satu jenis kuliner yang mudah ditemui di Gunungkidul. Tapi jenis sate ayam kampung ini hanya ada di Kota Wonosari. Selalu ramai dikunjungi sejak 1963.

Sate Noto Taman, inilah warung sate legendaris yang ada di Bumi Handayani. Konsisten menjual sate ayam kampung sejak puluhan tahun lalu. Kini masih eksis. Menempati Taman Parkir Kota Wonosari, warung berukuran 4x5 meter persegi ini memiliki lokasi yang cukup strategis. Berada di jantung ibu kota kabupaten, depan Pasar Argosari Wonosari. Warung Sate Noto Taman selalu ramai dikunjungi.

Ditambah cita rasa yang tidak pernah berubah, membuat warung sate ini sudah memiliki pelanggan tetap. "Dari awal buka sampai sekarang, daging sate ayam kampung," jelas Noto Taman, 79, sang pemilik warung.

Dia bercerita, dipilihnya ayam kampung hanya karena tidak ada pilihan. Saat itu, belum ada ayam potong atau broiler yang bisa disate seperti saat ini. Namun justru menjadi kebiasaan. "Terbiasa pakai daging sate ayam sampai sekarang," ujarnya.

Setiap harinya, dia hanya menggunakan ayam jantan. Mbah Noto sengaja memilih ayam jago karena meyakini dagingnya lebih banyak dari pada ayam betina. Dan mampu menghabiskan lima ekor ayam setiap harinya. "Sate satu tusuk Rp 1.750, satu porsi Rp 23.000," jelasnya.

Bertahan Menggunakan Ayam Kampung Jantan
Bertahan Menggunakan Ayam Kampung Jantan

Seperti sate pada umumnya, ketika tersaji di piring akan tampak irisan bawang merah, cabai dan mentimun yang disajikan secara terpisah. Racikan bumbu yang dibuat bersama suaminya, membuat cita rasa sate miliknya tak pernah berubah. Terbukti karena lokasinya yang cukup tersembunyi, namun selalu ramai didatangi pembeli. Sebagian besar mereka adalah pelanggan tetap, atau pelanggan lama yang sengaja datang ke Wonosari.

Mbah Noto membuka warung sate tidak sendiri. Ditemani Uji Rahmani, tak lain adalah anak tunggalnya. Setiap hari membuka kios mulai dari pukul 09.30-17.00.

Sementara itu, seorang pembeli Yasin Rohmad mengaku baru pertama kali menjajal sate racikan Mbah Noto. Datang tidak direncanakan, hanya mampir karena kebetulan sedang mengantar keluarga ke Pasar Argosari Wonosari. "Kami parkirnya di sini. Sudah saya coba rasanya enak, dagingnya empuk dan rasanya giruh. Kalau saya ini sangat enak," kata Yasin. (gun/eno)

Editor : Satria Pradika
#Kota Wonosari #Gunungkidul #Kuliner #legendaris #sate