Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belanda Kembalikan 472 Benda Bersejarah Milik Indonesia, Ada Arca Durga Hingga Ganesha dari Abad 13

Wulan Yanuarwati • Rabu, 12 Juli 2023 | 03:10 WIB
TAK TERNILAI: Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, pada Senin (10/7/2023). (Dok Kemendikbudristek)
TAK TERNILAI: Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, pada Senin (10/7/2023). (Dok Kemendikbudristek)

 

JOGJA - Sebanyak 472 benda bersejarah milik Indonesia dikembalikan oleh pemerintah Belanda. Diterima langsung oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, pada Senin (10/7/2023).

Ratusan benda bersejarah itu terbagi menjadi empat koleksi. Masing-masing terdiri dari sebuah Keris Puputan Klunkung dari Kerajaan Klungkung Bali, empat arca era Kerajaan Singasari, 132 benda seni koleksi Pita Maha Bali dan 335 harta karun jarahan Ekspedisi Lombok 1894.

“Indonesia, dalam hal ini Kemendikbudristek akan melakukan konservasi dan pemanfaatan terbaik untuk benda-benda budaya ini,” jelas Hilmar Farid dikutip dari laman Kemendikbudristek, Selasa (11/7/2023).

Empat arca era Kerajaan Singasari yang merupakan primadona dari abad ke-13 Masehi. Selama ini berada di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda.

Empat arca ini berasal dari Candi Singasari yang didirikan untuk menghormati kematian Raja Kertanegara, dinasti terakhir Kerajaan Singasari. Empat arca tersebut adalah Durga, Mahakala, Nandishvara, dan Ganesha.

Sedangkan 132 benda seni koleksi Pita Maha Bali antara lain karya lukisan, ukiran kayu, benda-benda perak, dan tekstil para maestro seniman yang tergabung di dalam kelompok seni Pita Maha. Salah satunya, Paguyuban seniman Bali yang didirikan pada 29 Januari 1936 oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati, I Gusti Nyoman Lempad, Walter Spies, dan Rudolf Bonet.

Kemudian, 335 benda yang merupakan objek dari Puri Cakranegara, Lombok. Sebelumnya tersimpan di Tropenmuseum. Sedangkan Keris Puputan Klungkung sudah sejak lama menjadi koleksi Museum Volkenkunde, Leiden.

Hilmar mengatakan, repatriasi benda bersejarah ini bukan sekadar memindahkan barang dari Belanda ke Indonesia. Namun juga untuk mengungkap pengetahuan sejarah dan asal-usul benda-benda seni bersejarah yang selama ini belum diketahui masyarakat.

"Jauh sebelum benda-benda tersebut kembali ke Indonesia, kedua komite repatriasi dari Indonesia dan Belanda bekerja sama melakukan serangkaian pertemuan dan diskusi, untuk membahas makna dari benda-benda tersebut bagi kedua bangsa, baik di masa lalu maupun di masa kini," jelasnya.

Hilmar menilai, kerjasama kedua negara dalam bidang repatriasi ini berkembang ke arah yang positif melalui mengembangkan program-program kerjasama museum dan penelitian yang melibatkan para ahli dari kedua negara. Ditambah, pengembangan program beasiswa bagi para sarjana yang melakukan penelitian di dalam bidang repatriasi benda kolonial.

"Proyek repatriasi benda bersejarah ini adalah momentum penting untuk menumbuhkan saling pemahaman dan kesetaraan di antara kedua bangsa," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Repatriasi koleksi asal Indonesia di Belanda dipimpin oleh I Gusti Agung Wesaka Puja. Dan Komite Repatriasi Benda Kolonial Belanda dipimpin oleh Lian Gongalvez-Ho Kang You.

“Kami sudah memulai upaya repatriasi ini sejak dua tahun lalu. Kami terus menjalin komunikasi positif dan produktif guna melanjutkan kerja sama dan mendorong ikhtiar pengembalian benda-benda bersejarah dari Belanda ke Indonesia,” jelas I Gusti Agung Wesaka Puja.

Pada kesempatan ini, juga dilakukan penandatanganan dokumen pengaturan teknis dan Pengakuan Pengalihan Hak. Dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia. (lan)

Editor : Amin Surachmad
#Belanda #repatriasi #benda bersejarah