RADAR JOGJA - Konsep bertransaksi non-tunai atau cashless society semakin digencarkan oleh Pemprov DIJ. Bahkan, upaya ini dilakukan dencan cara jemput bola.
Setda DIJ Bidang Perekonomian dan Pembangunan Yuna Pancawati mengungkapkan, telah ada implementasi nyata yang dilakukan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) DIJ untuk menggencarkan sistem transaksi non-tunai. Antara lain Go Door Pak Mo yang merupakan layanan jemput bola pembayaran pajak kendaraan bermotor secara non-tunai. Menyasar komunitas maupun masyarakat dengan membuka booth di event tertentu wilayah DIJ.
"Juga ada Pas Banget atau Pantai Selatan Bangun Ekosistem Digital. Yaitu inovasi yang dilakukan Pemda Gunungkidul dengan melakukan digitalisasi pada objek pariwisata," jelas Yuna dalam agenda Capacity Building on Asean Issues di kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) DIJ Senin (10/7).
Yuna menyebut, bahwa DIJ secara umum berhasil mendapatkan indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) pada level digital baik untuk provinsi maupun kabupaten/kota. Capaian tersebut juga menempatkan DIJ sebagai peringkat satu nasional dari sisi indeks ETPD.
Meski demikian, diakui Yuna bahwa masih ada beberapa aspek yang perlu dilakukan evaluasi dan peningkatan. Khususnya pada aspek realisasi transaksi digital kolaborasi dan sinergi yang harus terus dilakukan. "Terobosan baru dalam upaya meningkatkan penerimaan daerah menggunakan non-tunai harus terus dilakukan," lontarnya.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengungkapkan, ekonomi keuangan digital bisa menjadi kunci pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan inklusif. Akselerasi ekonomi dan keuangan digital yang inklusif menurutnya akan melahirkan kesempatan dan partisipasi ekonomi yang terbuka secara lebar dan secara merata dari pusat hingga daerah.
"Hampir 70 persen populasi Indonesia berada dalam kelompok 15-64 tahun dengan infrastruktur penopang digitalisasi antara lain listrik, internet dan juga smartphone," bebernya.
Dalam transformasi ekonomi keuangan digital, Filia melihat bahwa layanan pembayaran digital ini berperan sebagai pembuka yang merupakan entry point. "Juga sekaligus perekat dari masyarakat dalam satu ekosistem ekonomi keuangan digital," sebutnya. (cr1/eno)