RADAR JOGJA - Layanan Kereta Api (KA) Bandara Jogjakarta direncanakan makin diperluas jalurnya hingga ke Stasiun Maguwo, Maguwoharjo, Sleman. Ini ditujukan untuk mengurai kepadatan di Stasiun Tugu Jogja dan kemacetan di sekitar Malioboro. Rencana ini sudah pada tahap diskusi Pemprov DIJ bersama jajaran terkait.
Sekprov DIJ Beny Suharsono mengatakan, kereta api layanan menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) jalurnya akan diperluas sampai Stasiun Maguwo. Ini dilakukan untuk menambah layanan kepada penumpang, agar tidak bertumpuk di Stasiun Tugu Jogja. "Ini yang sedang kami jajaki dengan Direktur Perkeratapian bersama Dirjen Perhubungan Darat," katanya Minggu (9/7/23).
Beny menjelaskan diskusi konkret yang tengah dijajaki itu berkaitan dengan perluasan layanan KA Bandara atau layanan tersebut bisa ditarik sampai ke Maguwo. Diharapkan upaya tersebut bisa mengurai kemacetan yang terjadi di simpul Malioboro dan sekitarnya. Juga mengurai penumpang yang hendak ke Bandara YIA tidak bertumpuk menjadi satu di Stasiun Tugu Jogja. Serta menghidupkan lagi area yang ada di Maguwoharjo.
Dengan begitu, layanan pendukung trasnportasi lain pun juga akan disiapkan untuk mempermudah. "Karena di sana juga ada bandara, juga perlu transport penghubung melalui Trans Jogja supaya orang bisa ke sana sehingga akan mempermudah," ujarnya.
Pemprov DIJ pun telah menyiapkan lahan jika dibutuhkan untuk perluasan lintasan rel kereta api. Agar tidak mengganggu jalur perlintasan yang lain. Luasan lahan tersebut belum bisa dipastikan, pada prinsipnya tanah pemprov tersedia dan diizinkan untuk keperluan tersebut. Sebab, memang diperlukan tempat untuk melansir KA Bandara di sana dan dibutuhkan tanah untuk itu.
Baca Juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Diperpanjang ke Surabaya, Berdampak Ekonomi DIJ Kalau Ada Pemberhentian
"Tinggal harus mengatur perjalanan kereta nasionalnya dari Surabaya melalui jalur selatan ke Jakarta, harus diatur karena dobel track. Harus ada tempat lansirnya kereta bandara, nah itu tanahnya pemda sudah didiskusikan bisa digunakan untuk itu kan stasiun sudah ada. Sehingga tidak mengganggu arus kereta lain," jelasnya.
Menurutnya, dari sisi tanah sudah tidak ada masalah. Hanya tinggal bagaimana konstruksinya."Kalau pembagunan biasanya kalau dikerjasamakan antar pemerintah, daerah punya kewajiban menyiapkan lahannya. Pemerintah pusat infrastrukturnya. Realisasi kapan kita menunggu diskusi lanjutannya," terangnya. (wia/pra)
Editor : Satria Pradika