RADAR JOGJA - Gempa bumi yang terjadi tadi malam (30/6) dan berpusat di barat daya Bantul, terasa hingga beberapa daerah seperti Mojokerto (Jawa Timur) dan Bandung (Jawa Barat). Akibatnya, beberapa bangunan di Bantul dan Gunungkidul terdampak. Mulai tembok roboh hingga genting berantakan.
Dari informasi BMKG dilaporkan kekuatan gempa bermagnitudo 6,4 skala richter. Tepatnya terjadi pukul 19.57 dengan pusat 86 km barat daya Bantul dengan kedalaman 25 Kilometer. Gempa tidak berpotensi tsunami.
Gempa yang dirasakan warga Jogjakarta, khususnya di Bantul tadi malam cukup kencang. Masyarakat sempat panik hingga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Lama gempa diperkirakan berlangsung sekitar satu menit.
Seorang warga Sanden, Bantul, Lusi Suharyati mengaku sangat terkejut. Ketika terjadi dia sedang duduk-duduk santai dan dikiranya bukan gempa. "Tapi lama-lama saya rasakan kok semakin bergetar dan berasa banget, langsung saya keluar rumah," katanya kepada Radar Jogja.
Setelah ke luar ternyata seluruh keluarganya sudah berada di luar rumah. Gempa ini membuatnya shock sehingga terasa lemas di kaki karena masih menyimpan trauma dengan gempa Bantul 27 Mei 2006 lalu.
Lusi pun menceritakan rasa gemeterannya cukup lama pasca gempa karena teringat kejadian 2006. "Trauma gempa 2006 saya pasti muncul kalau seperti ini," tambahnya.
Namun dia bersyukur kondisi rumahnya masih baik-baik saja. Meskipun, menurutnya, gempanya terasa cukup besar dan lumayan lama. Ia menambahkan, di desanya juga baik-baik saja tidak ada rumah warga yang terdampak. Dampaknya hanya pot-pot bunga yang berjatuhan saja.
Dihubungi terpisah, Carik Sitimulyo, Piyungan, Amiruddin Shafa mengungkapkan di wilayahnya ada dua bangunan yang terdampak. Satu rumah milik warga, sedangkan satunya pondok pesantren (ponpes).
"Ponpes Bin Baz keramik dindingnya rontok dan satu rumah warga gentingnya berjatuhan. Selain itu aman," ungkapnya. Tidak ada korban luka ataupun jiwa atas kejadian gempa ini. Bangunan lainnya di Sitimulyo diklaim masih aman.
Kepanikan tidak hanya dirasakan di Bantul. Di Sleman juga tak kalah panik. Pelanggan warung sunda burjo berhamburan ke luar saat gempa terjadi. Bahkan ada satu di antara pelanggan yang sedang makan harus berhenti dulu dan keluar menyelamatkan diri. Setelah gempa dinilai mereda baru kembali melanjutkan makannya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul terus melakukan pendataan terhadap rumah yang mengalami kerusakan. Kepala BPBD Bantul Agus Yuli Herwanta, dari pendataan sementara, setidaknya ada 29 rumah yang mengalami kerusakan. Untuk korban jiwa tidak ada, sementara satu orang mengalami luka ringan.
Agus merinci, kerusakan terjadi di wilayah Padukuhan Numpukan, Karangtengah, Imogiri; satu di Kalurahan Bangunjiwo, Kasihan; satu di Ponpes Bin Baz, Piyungan; Padukuhan Piring, satu di Murtigading dan tiga di Srigading, Sanden; satu di Parangtritis dan satu di Tirtosari, Kretek.
Kemudian satu di Sumbermulyo, Bambanglipuro; satu di Segoroyoso, Pleret; satu di Triharjo, Pandak; satu di Sendangsari, Pajangan; satu di Girirejo, Imogiri; satu di Sumberagung, Jetis; serta satu di Muntuk, Dlingo. Adapun bentuk kerusakannya berupa genting rumah jatuh, tembok roboh, serta beberapa juga mengalami retak. "Sampai saat ini kami masih terus melakukan pendataan di pusat pengendalian dan operasi (Pusdalops)," ujar Agus saat dikonfirmasi tadi malam.
Terpisah, Koordinator SAR Satlinmas Wilayah III Arief Nugraha mengaku, untuk wilayah pantai selatan Bantul masih terkendali. Ia pun memastikan kondisi gelombang laut juga masih sangat aman dan tidak ada tanda-tanda terjadi tsunami. "Untuk kerusakan rumah sementara nihil," katanya.
Perjalanan KA Sempat Dihentikan
Sejumlah perjalanan kereta api (KA) sempat diberhentikan pasca terjadi gempa. Manajer Humas KAI Daop 6 Jogjakarta Franoto Wibowo mengatakan, ada 12 perjalanan KA yang diberhentikan. "Baik diberhentikan di stasiun maupun di petak jalan atau lintas," katanya.
Franoto menjelaskan 12 KA dihentikan karena menunggu pemeriksaan dari jajaran Prasarana Daop 6 Jogjakarta terkait jalan rel, jembatan, fasilitas operasi listrik aliran atas untuk KRL.
Adapun 12 KA itu adalah KA 240 Pasundan, KA 237 Khuripan, KA 118 Wijaya kusuma, KA 234 Matarmaja, KA 578 Bandara YIA, KA 217 Jayakarta,KA 87 Senja Utama Solo, KA 124 Bangunkarta, KA 93 Lodaya, KA 690F, KRL commuter Line, KA 55 Gajayana, dan KA 97 Sancaka.
"Alhamdulillah selesai pemeriksaan oleh jajaran Prasarana Daop 6 Jogjakarta dan pukul 20.40 dinyatakan aman, kereta api bisa berjalan normal kembali," ujarnya.
Menurut informasi Pusdalops BPBD DIJ, dampak gempa juga terjadi di beberapa wilayah di DIJ. Informasi dampak kerusakan di Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Total terdampak sedtidaknya 17 titik. Dampaknya, antara lain, rumah rusak 15 unit, fasilitas pemerintah 1 titik, faskes 1 titik dan fasilitas pendidikan 2 titik. (cr3/inu/wia/cr2/laz)