Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Delapan Kapanewon Terancam Kekeringan, BPBD Sleman Siapkan 5.000 Liter Air

Khairul Ma'arif • Senin, 26 Juni 2023 | 17:00 WIB
HADAPI ANCAMAN: Penyaluran droping air disediakan BPBD Sleman pada musim kemarau tahun lalu yang disalurkan ke Sayegan dan Tempel.
HADAPI ANCAMAN: Penyaluran droping air disediakan BPBD Sleman pada musim kemarau tahun lalu yang disalurkan ke Sayegan dan Tempel.

RADAR JOGJA – Delapan kapanewon di Sleman terancam bencana kekeringan. Meliputi Kapanewon Prambanan, Berbah, Depok, Kalasan, Ngemplak, Gamping, Seyegan, dan Minggir.


Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro menjelaskan, sampai saat ini memang belum ada laporan kekeringan. Khususnya di wilayah yang diperkirakan mengalami kekeringan sesuai prakiraan BMKG.


Meski demikian, langkah persiapan menghadapi ancaman kekeringan telah dilakukan. Misalnya, dikeluarkannya Surat Keputusan Bupati Sleman tentang Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Nomor 19.2 /Kep. KDH/2023 sejak 10 Maret 2023 yang di dalamnya mengatur langkah-langkah antisipasi bencana kekeringan. Selain itu, sebanyak 29 tangki berisi 5.000 liter air juga telah disiapkan. Untuk berjaga saat droping air diperlukan. “Sampai sekarang belum ada,” ujar Bambang Kuntoro Minggu (25/6/23).


Berdasarkan pengalaman, dua daerah di Sleman sempat mengalami kekeringan. Keduanya yakni Kapanewon Tempel, tepatnya di tiga padukuhan di Kalurahan Banyurejo. Sedangkan satu wilayah lainnya di Kapanewon Sayegan, tepatnya di dua padukuhan di Kalurahan Margokaton.


"Kekeringan yang terjadi karena dampak revitalisasi Selokan Mataram. BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Serayu Opak akan koordinasi bila akan ada revitalisasi Selokan Mataram dengan OPD terkait sehingga tidak berdampak buruk atau kekeringan,” beber Bambang.
Sementara itu, Prambanan menjadi wilayah paling rawan bencana. Terutama di wilayahb Gayamharjo, Sambirejo, Wukirharjo, dan sebagian Sumberharjo. Kendati begitu, pada 2020 telah dibangun pompa dari PDAM yang diambil dari mata air Padukuhan Pendekan, Tirtomartani, Kalasan.


“Air dinaikkan ke bak penampung di wilayah tertinggi di Prambanan (Mintorogo, Gayamharjo, Red) lalu diluncurkan secara gravitasi ke hidran umum di beberapa wilayah dan di sambungan rumah di wilayah Prambanan,” sebut Bambang.
Selain itu, ada upaya lain melalui para relawan yang selalu disampaikan kepada masyarakat. Dengan menggunakan air bersih secara bijak. Selain itu yang juga patut diwaspadai adalah adanya longsoran material Gunung Merapi. Dikhawatirkan akan merusak pipa air bersih di wilayah lereng Merapi.


Sebelumnya, Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sleman Etik Setyaningrum mengatakan, prediksi musim kemarau tahun ini bakal lebih kering dibandingkan tahun lalu. Hal ini dilihat dari kondisi dinamika atmosfer pada dasaran I Mei. Monsun Australia mulai mendominasi wilayah Indonesia selatan ekuator. Sehingga menyebabkan anomali suhu muka laut perairan Indonesia (Sea Surface Temperature/SST). 


"SST dalam kondisi normal. Kondisi enso netral, diprakirakan adanya peluang elnino di semester 2 tahun 2023 antara Juli-Agustus," kata Etik.
Kemudian fenomena Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena di Samudera Hindia yang disebabkan karena perbedaan anomali SST antara Pantai Barat Sumatera dan Pantai Timur Afrika, saat ini juga berada pada kondisi netral. Kecenderungan suhu masih di batas normal. 


Dalam beberapa hari terakhir berkisar antara 32-33 derajat celcius. Adapun suhu minimum berkisar 21-22 derajat celcius. "Batas ini masih wajar, sedari April belum sampai melebihi ambang batas," ungkapnya. 
Diprakirakan hujan untuk tiga bulan ke depan berkisar 0 - 20 milimeter atau ktiteria rendah. Dan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli-Agustus. "Berakhirnya musim kemarau diprediksi pada umumnya dasarian dua pertengahan pertengahan Oktober," tandasnya. (cr3/eno)

Editor : Satria Pradika
#BPBD Sleman #BMKG