Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Paksiband Rilis Album Keroncong Berbahasa Jawa, Sentil Isu Agraria

Wulan Yanuarwati • Sabtu, 24 Juni 2023 | 17:41 WIB
KHAZANAH: Paksiband launching album perdana Panen Raya di Prambanan Jazz Cafe pekan lalu. (Wulan Yanuarwati/Radar Jogja)
KHAZANAH: Paksiband launching album perdana Panen Raya di Prambanan Jazz Cafe pekan lalu. (Wulan Yanuarwati/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Sawahe jembar-jembar. Parine lemu-lemu. Petanine tuwa-tuwa. 

 

Itu adalah salah satu lirik lagu Panen Raya yang dirilis oleh Paksiband. Liriknya bernada sindiran, dengan bahasa ngoko Jawa yang lugas namun mengena.

Sawah yang luas, padi yang subur dan petani yang sudah tua. Sawah yang luas membentang dengan padi yang subur ialah pemandangan yang hampir tak bisa ditemui lagi di Jogja. Digilas alat berat proyek pembangunan jalan dan perumahan-perumahan elite. 

Petani yang sudah tua dan minimnya regenerasi. Jauh dari sejahtera, memangnya siapa anak muda yang mau jadi petani full-time?

Memang, tidak banyak lagu berbahasa Jawa yang menyinggung isu-isu sosial. Paksiband sengaja melakukan gebrakan itu. Meskipun terlalu muluk jika menuntut perubahan secara langsung. Namun setidaknya hal ini bisa mewarnai dunia musik Indonesia. Khususnya, di Jogjakarta.

"Sastra Jawa itu kan jarang yang isinya kritik atau tema yang membicarakan perlawanan dan ketertindasan. Saya sebagai penulis lirik menawarkan hal tersebut dalam khazanah kesustraan Jawa," ujar vokalis sekaligus pendiri band, Paksi Raras Alit.

Selama ini, sastra Jawa seolah-olah terbebani dengan kata-kata yang indah. Dominasi sastra Jawa berwujud pitutur, piwulang, ajaran, dan nasihat yang penuh dengan kata-kata yang identik dengan keindahan dan kehalusan.

Tema lirik Album Panen Raya yang berisi 10 lagu ini mengambil jarak dengan hal-hal tersebut. Lalu memberi ruang selebar-lebarnya pada isu-isu sosial.

Terlihat, Paksiband tidak melabeli dirinya sebagai penjual cerita-cerita sedih patah hati, apalagi menye-menye. Tidak mengikuti pasar dan bisa menentukan sikapnya sendiri.

"Atau kalau tidak ya isinya lagu cinta patah hati seperti yang sedang hits belakangan ini," ujar lulusan Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Tak kalah menarik, musik keroncong yang dibawakan Paksiband dikemas lain dari biasanya. Yakni dengan perpaduan instrumen tradisi dan modern. Selama ini musik keroncong identik dengan sesuatu yang tradisional, kuno, dan membuat ngantuk. Musik keroncong Paksiband yang sudah ada sejak 2017 ini kerap disebut keroncong modern.

"Album ini adalah susunan produk budaya tradisi dalam persilangannya dengan modernitas," imbuhnya.

Sementara itu, suasana launching Album Panen Raya menjadi momen yang menyenangkan. Keluarga, kerabat dan para sedulur berbaur menjadi satu. Tak ada jarak diantaranya.

Launching album Paksiband tidak seperti acara launching pada umumnya. Diselingi gelak tawa penonton saat sesekali sang vokalis berkelakar ceria. (lan)

Editor : Amin Surachmad
#musik 2022 #keroncong #panen raya #jogjakarata