Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

LPEKN Desak Pansus BLBI DPD RI Tuntaskan Mega Skandal BLBI

Novika Ika • Sabtu, 24 Juni 2023 | 03:45 WIB
TEGAS: Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN), Sasmito Hadinegoro mendesak Pansus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) DPD RI serius menuntaskan skandal BLBI. (Istimewa)
TEGAS: Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN), Sasmito Hadinegoro mendesak Pansus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) DPD RI serius menuntaskan skandal BLBI. (Istimewa)

RADAR JOGJA - Ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN) Sasmito Hadinegoro mendesak Panitia Khusus (Pansus) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) DPD RI serius menuntaskan mega skandal korupsi keuangan negara BLBI sebagai kasus korupsi terbesar sejak RI merdeka. 


Karenanya, dibutuhkan keseriusan Pansus BLBI DPD RI dengan memprioritaskas kasus-kasus BLBI terbesar terkait BCA-BDNI yang patut diduga menyeret para konglomerat-konglomerat hitam seperti Anthony Salim, Budi Hartono, serta Syamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nurssalim.


Masalah ini sangat diperlukan mengingat daya rusak ekonomi dari BLBIgate ini sangat besar.
Sampai detik ini, potensi kerugian keuangan negara dari kedua bank swasta terbesar itu mencapai ratusan triliun rupiah. 


Di samping itu, juga Bank Danamon yang kala periode Kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri berkuasa sampai tahun 2004 yang lali dijual kepada Temasek Singapura.


Kasus ini harus dibongkar kembali sebab diduga kuat ada rekayasa yang dibuat oleh para menteri ekonominya Presiden Megawati.


“Saya minta, Pansus BLBI DPD RI ini serius dalam bekerja. Tuntaskan skandal mega skandal ini. Jangan sampai mereka masuk angin sebab godaan dari BLBI ini sangat besar,” ujar Sasmito di Jakarta, Jumat (23/6).

Karena itu, Sasmito meminta Pansus BLBI DPD RI ini istiqomah dalam bekerja dan tidak terpengaruh dengan godaan uang yang menjadi senjata pamungkas para obligor BLBI ini.


“Pansus BLBI ini berhadapan dengan para pengusaha kakap. Godaannya sangat besar sekali. Mereka akan berusaha dengan segala macam cara agar tidak diusik oleh Pansus BLBI ini,” tegasnya.

Selain itu, Sasmito juga mendesak Pansus BLBI DPD RI agar meminta PT Bank Central Asia (BCA) Tbk mengembalikan saham BCA 51 persen. 

“Jadi, sekarang ini, BCA yang sudah pernah akan bangkrut itu, kan sudah selamat. Bahkan berjaya berkat bantuan Pemerintah. Maka sekarang sungguh layak dan sudah semestinya pemilik baru - pemegang saham mayoritas BCA baru- membalas budi kepada Pemerintah dengan mengembalikan Obligasi Rekap itu,” ujarnya.


Ikhwal BCA menerima BLBI terjadi saat BCA terkena rush pada saat terjadinya krisis moneter. 
Saat itu, BCA menerima bantuan BLBI yang jumlahnya Rp 32 triliun.


Mekanisme pemberian diberikan secara bertahap yakni Rp 8 triliun, Rp 13,28 triliun, dan Rp 10,71 triliun


Ketika masih dimiliki sepenuhnya oleh Salim Group, sebagai pemilik BCA Salim Group mengambil kredit dari BCA senilai Rp 52,7 triliun. Maka, ketika 93 persen BCA dimiliki oleh pemerintah, hutang Salim Group tersebut beralih menjadi utang kepada pemerintah.


“Jadi, pemerintah menagihnya kepada Salim Group,” terangnya.


Karena Salim Group tidak memiliki uang tunai maka dibayarlah dalam skema Pelunasan Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) yang wujudnya Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA) dengan uang tunai sebesar Rp 100 miliar dan 108 perusahaan.

Menurutnya, yang menerima obligasi rekap itu adalah BCA. Karena itu, sampai sekarang yang punya obligasi rekap itu adalah BCA. Artinya, pemerintah berhutang kepada BCA dan membayar bunga atas obligasi rekap itu.


Padahal, semula terjadinya onligasi rekap itu untuk mengembalikan kepercayaan publik pada BCA.
“Yang menerima BLBI itu BCA. Apakah Salim Group pinjamannya kepada BCA itu melampaui BMPK atau tidak, saya lupa. Tap,i kalau BDNI dan Bank Danamon saya ingat betul melampaui BMPK,” jelasnya.


Dia menjelaskan, karena terjadi rush maka BI mengucurkan dananya utk mengatasi rush itu. Pada saat itu, dana yang di kucurkan BI itu masih berstatus utang karena dana talangan. "Jadi, pemiliknya yang masih Salim Group,” urainya.

Kepemilikan itu menyangkut saham dan saham baru beralih melalui RUPS yang kemudian di akte notariskan dan di laporkan ke Kemenkumham.
“Nah itu tentu memerlukan waktu sehingga rasanya tidak mungkin sempat di lakukan pada saat saat rush tadi (saat dana di kucurkan),” pungkasnya.

Editor : Amin Surachmad