Ketua Panita JIBB Gatot Saptadi mengatakan, ajang ini merupakan tindak lanjut dari dicanangkannya Jogja sebagai Kota Batik Dunia. Penetapan ini dilakukan oleh Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council) pada 18 Oktober 2014.
"Kita akan menampilkan 150-an batik dan mengundang 3-4 menteri yang lainnya ada 29 para duta besar (sejumlah negara),kemudian dari dekranasda pusat, para pecinta dan pemerhati batik," katanya dalam jumpa pers di Unit IX Kompleks Kepatihan Rabu (21/6).
Gatot menjelaskan untuk mengawali rangkaian kegiatan, lebih dulu diawali dengan launching JIBB untuk lebih mengenalkan Jogja sebagai Kota Batik Dunia. Sehingga batik Jogja bisa dikenal nasional hingga internasional.
Salah satu agenda pada launching tersebut yaitu display batik daur hidup yang akan menampilkan motif-motif batik untuk kehidupan yakni menggambarkan setiap tahapan kehidupan manusia mulai lahir hingga meninggal dunia.
"Motif-motif (batik) punya arti dan digunakan saat momen kehidupan. Saat ada sripah (orang meninggal) misalnya, kainnya berbeda makna dengan saat njagong manten, nah ini yang kami ingin sampaikan ke masyarakat luas," ujarnya.
Menurutnya, Jogja Kota Batik Dunia mengacu pada nilai sejarah, pelestarian, nilai ekonomi, ramah lingkungan, nilai global dan berkelanjutan. Tahun ini JIBB dengan rangkaian agenda yang digelar mulai bulan Juni sampai akhir Desember itu mengambil tema Borderless Batik dengan sub-tema From Heritage to Millennials Life Style.
Makna dari tema tersebut ialah batik tanpa batas dan bisa menyelesaikan banyak hal utamanya kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. "Berkelanjutan dan punya nilai jual bisa untuk meningkatkan ekonomi. Harapan semoga bisa membawa nama Jogja sebagai Kota Batik Dunia," tambahnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIJ Syam Arjayanti mengatakan, guna mempertahan status kota batik dunia maka DIJ terus berupaya untuk mempromosikan batik sebagai warisan budaya tak benda kepada masyarakat internasional.
"Launching diselenggarakan di Sarinah karena kita mencoba keluar dari Jogja, supaya batik dikenal tidak hanya di Jogja tapi nasional juga internasional, karena yang diundang juga para duta besar," katanya.
Sebagai kota batik dunia, menurutnya, Pemprov DIJ dan Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) DIJ telah berupaya menjaga kelestarian batik melalui berbagai kegiatan dan pelatihan.
Penyelenggaraan JIBB kali ini yang menggandeng sejumlah duta besar diharapkan dapat turut mempromosikan batik sebagai warisan budaya dunia kepada masyarakat global.
Sementara, Badan Jogja Kota Batik Dunia Sardi menilai sebagai kota batik dunia, setiap kabupaten/kota di DIJ memiliki ciri khas batiknya tersendiri dalam batik yang diciptakan sesuai dengan pengembangannya.
Kekhasan masing-masing wilayah tersebut menurutnya dapat menguatkan DIJ sebagai kota batik dunia.
“Batik ada di (DIJ) memiliki kearifan lokal. Selain itu tradisi dan originalitas dalam membatik juga mengakar di masyarakat, mulai dari keraton, pembatik di setiap wilayah,” imbuhnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad