Ada dua laskar yang menyatakan sumpah setia. Pertama, laskar yang dipimpin Singseh. Laskar ini terdiri atas orang-orang Tionghoa yang tinggal di Jawa. Mereka memiliki empat komandan lapangan. Epingbulung, Leyang, Etik, dan Epo. Kedua, laskar yang dikomandani Kapitan Sepanjang. Anggota laskar ini berasal dari Batavia.
Dukungan Sunan bukan hanya kata-kata. Empat hari kemudian pada 5 Agustus 1741, Paku Buwono II memberikan izin laskar Tionghoa memakai alat utama sistem senjata (alutsista) milik Markas Besar Tentara Nasional Mataram (TNM).
Baca Juga: Laskar Tionghoa Terbentuk, Momentum Tepat Usir VOC
Laskar Tionghoa diberi tugas mengoperasikan meriam Kyai Kumbarawa, Kyai Kumbarawi, dan Kyai Guntur Geni. Sedangkan pasukan Mataram kebagian meriam Kyai Suhbrasta dan Kyai Segarawana. Lima meriam itu merupakan pusaka warisan Susuhunan Agung Hanyakrakusuma. Raja Mataram yang masyur, kakek buyut Paku Buwono II.
Hari itu operasi menggempur benteng VOC di Kartasura dimulai. Akibat gempuran Koalisi Mataram-Tionghoa itu benteng Kompeni mengalami kerusakan berat. Pasukan VOC benar-benar terdesak. Lewat seorang perantara, Komandan Garnisun VOC di Kartasura Van Velsen menyurati Sunan.
Velsen meminta izin keluar dari benteng dengan aman. Selanjutnya, pasukan Kompeni hendak meninggalkan Kartasura. Mereka berencana mundur menuju Semarang. Namun semua permohonan itu ditolak. Paku Buwono II menjawab dengan sangat tegas. Pasukan Kompeni dibiarkan selamat kalau mereka menyatakan menyerah kepada raja Mataram. Selanjutnya, bersedia masuk Islam.
Baca Juga: Ejek VOC, Minta Jelaskan Tanda-Tanda Tionghoa Jahat
Menghadapi permintaan itu, VOC balik membuat tekanan. Velsen mengancam membunuh mertua Sunan, Pangeran Purbaya dan istrinya, yang tengah diasingkan di Sri Lanka. Gertakan itu tidak mempan. Sunan tetap pada sikapnya.
Gempuran terhadap benteng VOC semakin kuat. Laskar Singseh yang sedang berada di Semarang ditarik ke Kartasura. Demikian pula dengan pasukan Pringgalaya di Salatiga. Bertambahnya kekuatan Koalisi Mataram-Tionghoa itu membuat pasukan VOC semakin terdesak.
Kapitan Sepanjang memerintahkan pasukannya membuat tangga-tangga dilengkapi roda. Tangga-tangga itu digerakkan mengelilingi benteng. Pasukan Mataram-Tionghoa berloncatan masuk ke benteng melalui tangga buatan itu. Duel satu lawan satu dengan tentara Kompeni tak bisa dihindari.
Baca Juga: Menghitung Kekalahan VOC, Tionghoa Berkucir Mulai Melawan
Tidak lama setelah itu terlihat seorang peniup terompet VOC menunggang kuda keluar benteng sembari membawa bendera putih. Peniup terompet itu kemudian dibawa ke istana Kartasura. Di depan Patih Natakusuma, peniup terompet itu menginformasikan Velsen beserta pasukan Kompeni menyerah. Kabar menyerahnya VOC itu kemudian dilaporkan kepada Paku Buwono II.
Sehari kemudian raja mendatangi benteng Kompeni. Sejak pukul 07.00 pasukan Kompeni yang menyerah itu telah berbaris. Mereka mengikat senjata masing-masing. Paku Buwono II memasuki benteng dengan menunggang kuda kebesarannya. Sunan menginspeksi ke sekiling benteng.
Pagi itu juga raja Mataram menerima pernyataan penyerahan pasukan VOC. Sebanyak 417 bedil dan tiga meriam milik Kompeni ikut diserahkan. Komandan Garnisun VOC yang sombong dan serakah Van Velsen akhirnya dieksekusi mati. Hari itu, 10 Agustus 1741 menjadi hari bersejarah. Kompeni secara resmi bertekuk lutut. VOC menyerah kepada raja Mataram Paku Buwono II. (laz)
Editor : Satria Pradika