Para warga pun telah berkumpul dan memadati kawasan pegunungan Menoreh untuk mengikuti kirab menuju Terminal Giritengah. Beberapa ogoh-ogoh dan gunungan palawija menghiasi kirab tersebut.
Kegiatan tahunan itu diikuti oleh warga setempat, seniman, budayawan, dan pelaku wisata. Tujuannya untuk melestarikan seni budaya tradisional sekaligus sebagai daya tarik wisata di kawasan penyangga Borobudur. Sekaligus memperingati Hari Jadi Desa Budaya Giritengah ke-352.
Baca Juga: Masyarakat Terban Gelar Budaya Ruwahan
Plt Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah Sulistyio menyampaikan, di tahun ini, Desa Giritengah menjadi desa binaannya. "Harapannya, warga Desa Giritengah pada sensus berikutnya tidak masuk dalam kategori desa miskin lagi," kata Sulistyio di sela kegiatan, Sabtu (17/6).
Menurutnya, ada beberapa potensi yang bisa terus dikembangkan di Desa Giritengah ini. Apalagi desa ini mendapatkan nominasi prestasi nasional sebagai 'Desa Budaya' nomor 2 se-Indonesia. Dia berharap, pada sensus berikutnya, Desa Giritengah bisa menjadi desa mandiri.
Bupati Magelang Zaenal Arifin mengapresiasi gelar budaya yang dilakukan oleh Desa Giritengah. Di usianya yang ke-352 tahun ini, kata dia, ada banyak hal yang harus dipenuhi. "Perjalanan panjang ini yang paling penting yaitu bersyukur. Nikmat syukur inilah yang kita wujudkan dengan menggelar gelar budaya," ujar Zaenal.
Baca Juga: Semarak Gelar Budaya Sampan
Zaenal mengatakan, Bung Karno berpesan agar bangsa Indonesia bisa mandiri di bidang politik, ekonomi, serta memiliki kepribadian dalam kebudayaan. Untuk itu, kata dia, kebudayaan-kebudayaan adiluhung yang menjadi warisan luhur para leluhur ini harus terus dilestarikan dan dijaga bersama."Karena ternyata kepribadian kebudayaan yang ada di kita mampu menjadi benteng di tengah-tengah perubahan era globalisasi yang cukup luar biasa cepat dan pesat ini," ungkap Zaenal. (aya/pra/sat)