Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dalang Perempuan, Anisyah Padmanila Sari Awalnya Tak Kenal Dunia Wayang

Rizky Wahyu • Minggu, 18 Juni 2023 | 18:00 WIB

KARENA CINTA : Anisyah Padmanila Sari bersama wayang kulit yang dimiliki. Meski dunia pedalangan banyak diisi oleh kaum adam, Anisyah tetap pede dan terus belajar untuk menjadi dalang.
KARENA CINTA : Anisyah Padmanila Sari bersama wayang kulit yang dimiliki. Meski dunia pedalangan banyak diisi oleh kaum adam, Anisyah tetap pede dan terus belajar untuk menjadi dalang.
RADAR JOGJA – Anisyah Padmanila Sari sampai saat ini sangat menggeluti dunia wayang. Kecitaan itu berawal dari rekomendasi sang tante untuk kuliah di Pedalangan ISI Jogja.


Wanita kelahir Solo dan Besar di Sleman, itu menceritakan pada 2013 dirinya belum mempunyai pengalaman sama sekali saat masuk kuliah di jurusan Pedalagan ISI Jogja. Sebab pertama kali yang terbayang itu kalau dalang dilakoni oleh kaum pria. “Aku belum pernah nonton wayang. Aku belum ada bayangan sama sekali," ujarnya, Jumat (16/6).


Sejak pertama masuk jurusan pedalangan ISI. Anisyah mengatakan kalau ia baru mengatahui jika si mbah putrinya seorang dalang.
"Jadi dulu itu aku tidak begitu mengerti asal-usul dan passion di keluarga besar bapakku. Dan ternyata dulu simbah putriku itu dalang dan bapaknya atau simbah buyut aku itu juga seorang dalang," katanya
Sejak kecil sampai SMA, Anisyah mengaku tidak pernah nonton wayang, tahu soal pewayangan, gamelan. Sedangkan sejak kecil ia hanya tau seni tradisi jathilan.


Anisyah memulai basic pedalangan dari nol saat masuk kuliah. Dan dulu ia mengaku kalau masih bingung mau ngapain saat kuliah di pedalangan.


"Tapi lambat laun dan lingkungannya positif. Dan dari teman-teman, kakak tingkat, dan dosen juga membantu proses Anisyah dipedalangan itu. "Jadi aku sering diberi ruang untuk ikut mereka perform," jelasnya
Sejak semester satu, Anisyah mengatakan pernah diajak latihan sekali dan habis itu langsung diajak penyas wayangan. "Waktu itu aku pikir hanya diajak nonton. Ternyata diajak di panggungnya," cetusnya.


Sejak saat itu Anisyah mulai belajar soal pedalangan. Ditambah lagi proses perkuliahannya yang menurutnya juga sangat asing soal pedalangan. Tapi itulah yang membuatnya semakin terus belajar dan terus mencari tahu.


"Dulu waktu kuliah banyak temanku yang dari SMKI pedalangan dan semua cowok. Jadi aku harus mengejar sampai aku bisa," terangnya.
Dari awal masuk kuliah dan sampai sekarang ini. Anisyah mengaku masih ingin belajar dan mendalami soal pedalangan.


Dijelaskan, dari awal semester kuliah ada ujian untuk mendalang langsung. Dan pertunjukan itu dilakukan untuk umum. Dan pada saat itu Anisyah mengaku saat itu hanya bermodal hafal lakon saja.


Baginya kesulitan dipedalangan itu di teknis pertunjukannya. Sebab menurutnya semua dalang rata-rata itu kaum adam dan kebanyakan lakon wayang itu kebanyakan bercerita soal kepahlawanan yang bergenre laki-laki.


"Karena lakonya laki-laki kebanyakan tokohnya laki-laki. Secara teknis pertunjukan aku harus bisa nih mengenal tokohnya, harus bisa mengerti karakter suaranya. Sebab suara laki-laki dan perempuan itu kodratnya berbeda dan aku harus menyesuaikan di situ," tuturnya.
Untuk seorang dalang perempuan, tentu banyak orang yang akan mempertanyakan dan mencibir. Dan dalang perempuan kurang mempunyai wadah untuk berekspresi. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi Anisyah untuk terus berkembang. Ia mengaku terus haus ingin belajar wayang setiap harinya.


Selain menjadi seorang prempuan yang mendalami pedalangan Anisyah ternyata juga menjadi Duta museum di Museum Wayang Kekayon Jogjakarta. Berawal dari undangan untuk menjadi narasumber sebagai seorang perempuan yang mendalami pedalangan di hari perempuan nasional. "Di sana kan museum soal wayang juga makanya aku dipanggil ke sana untuk mengisi acara hingga akhirnya aku mendaftar dan diterima di sana," cetusnya.


Saat ini, Anisyah mengaku masih berkegiatan bermain wayang kecil-kecilan (kontemporer) dari bahan kardus atau botol bekas. Dan kegiatan itu bertujuan untuk memperkenalkan wayang ke anak-anak kecil atau masyarakat.


Dan bagi Anisyah, wayang atau pedalangan itu sampai saat ini masih menjadi bagian dari hidupnya tanpa ia sadari. Sebab pedalangan atau wayang baginya adalah hal yang bisa ia pelajari dalam waktu yang sangat pendek. "Dari pewayanagan atau pedalangan banyak pelajaran hidup yang bisa kita pelajari. Dan tanpa sadar aku enjoy dan pedalangan itu sudah mendaji darah daging aku sendiri," tambahnya (cr2/bah/sat)

Editor : Satria Pradika
#Anisyah Padmanila Sari #ISI Jogja #Pedalangan #Jogja