Njimpit atau mengutip uang jimpitan biasa dilakukan secara bergilir setiap malam. Satu paket dengan patroli memastikan kampung tempat tinggal mereka aman. Kegiatan ronda biasanya terbagi menjadi tujuh kelompok, sesuai dengan jumlah hari dalam sepekan.
Masing-masing kelompok mendapat jatah ronda sekali dalam seminggu, sekaligus mengutip uang jimpitan. "Biasanya kami berkumpul dulu di gardu sebelum keliling mengambil uang jimpitan," ucap Ketua RT 02 RW XII Kalurahan Wonosidi Lor Widodo (16/6).
Dijelaskan, njimpit biasanya dilakukan tengah malam, setelah anggota kumpul kemudian membagi menjadi beberapa tim. Masing-masing tim kecil akan menyebar keliling rumah-rumah warga untuk mengambil uang receh yang sudah disiapkan masing-masing penghuni. Biasanya diletakkan dalam mangkuk yang tergantung di samping pintu.
"Jadi pada intinya kami keliling mengambil uang di rumah-rumah warga, sekaligus memantau keamanan kampung. Kami bawa bolpoin, senter dan kotak atau plastik untuk membawa uang receh," jelasnya.
Setelah uang diambil, kemudian dihitung setelah semua anggota lengkap berkumpul kembali di pos ronda. Jumlah uang kemudian dibukukan dalam buku ronda dan menjadi kas RT. Uang akan digunakan untuk keperluan interaksi sosial, semisal membeli tenda, gelas, piring, kursi, dan lainnya.
"Bahkan bisa digunakan untuk acara tertentu, seperti malam tirakatan peringatan HUT RI atau acara halal bihalal saat Idul Fitri. Semalam biasanya bisa terkumpul Rp 25 ribu. Kalau sebulan tinggal dikalikan saja," tambahnya.
Warga RT 03 RW IX Sugiyo mengungkapkan hal senada. Jimpitan saat ini memang bukan lagi beras, tetapi uang pecahan Rp 500. Itu minimal, warga boleh memasang pecahan uang lebih, tergantung kemampuan.
"Beras biasanya kalau ada kematian, ada sendiri yang mengutip ke rumah-rumah. Biasanya satu KK memberikan satu gelas atau satu mangkuk beras," ungkapnya. (tom/laz/sat)