Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jimpitan Beras, Jadi Sarana Pererat Kerukunan Warga

Gunawan RaJa • Minggu, 18 Juni 2023 | 14:00 WIB

Kegiatan ronda malam identik dengan jimpitan
Kegiatan ronda malam identik dengan jimpitan
RADAR JOGJA - Kegiatan ronda malam identik dengan jimpitan. Dalam bahasa Jawa, jimpitan berasal dari kata 'njimpit' yang berarti mengambil sedikit dengan ujung jari. Kala itu, bukan uang koin yang dijimpit, tapi beras.


Seorang pegawai di lingkungan Pemkab Gunungkidul Untung Eko Saputro berbagi pengalaman tentang tradisi turun temurun ITU. Njimpit pada umumnya dilakukan masyarakat pedesaan. "Kalau saya dulu jimpitan dalam lingkup kecil seperti RT," kata Untung saat dihubungi Radar Jogja (16/6).


Dikatakan, tradisi jimpitan merupakan salah satu kearifan lokal yang membuat masyarakat desa hidup rukun dan harmonis. Jimpitan diberikan secara cuma-cuma oleh warga.
Jika ditarik jauh ke belakang, jimpitan adalah tradisi menabung ramai-ramai. "Bentuknya berupa pecahan uang receh Rp 500 atau kalau dulu jimpitan berupa beras," ujarnya.


Pegawai Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul ini mengawali cerita dengan menyebut satu persatu anggota tim ronda malam bersama dirinya. Ada Agung, Gina, Towok, Gendut dan Tuwit. "Saya mulai ikut kegiatan ronda malam dan jimpitan sekitar tahun 1995," ungkapnya.
Mengacu pada 'rapat paripurna' di kampungnya, Pak Dukuh memutuskan jimpitan diwujudkan dalam wujud beras. Masih dalam ketentuan hasil rapat, setiap satu rumah dengan sukarela menyisihkan beras sebanyak dua sendok makan. "Dimasukkan ke dalam wadah kecil yang menempel di teras rumah," ucapnya.


Pernah satu ketika, dirinya kebingungan mencari titik koordinat lokasi jimpitan. Sampai muter-muter rumah namun tidak ketemu. Karena penasaran, pagi harinya didatangi lagi dan ternyata beras jimpitan 'numplak' alias jatuh karena tidak terpasang kuat."Bayangkan, gelap malam hanya bawa belor (senter) sinarnya redup mencari jimpitan," kenangnya.


Kekuatan senter merk Tiger tak mampu menembus gelapnya hari. Lampu bohlam belum LED seperti sekarang. Pancaran sinar warna kuning karena masih menggunakan plentong (bohlam) kecil. "Apes Mas. Kami menginjak kotoran hewan," kelakarnya.


Semua tertawa kompak. Saling menyalahkan satu sama lain, namun ujungnya tetap tertawa lepas bersama. Bagaimana tidak, ronda menurutnya aktivitas natural mempererat tali persaudaraan. "Jalan bareng, kumpul bareng suka duka bersama," ujarnya.


Cerita sial menginjak kotoran sapi masih bersambung, karena pada malam itu bersama dengan kawan-kawan harus menuntaskan njimpit beras di 40 rumah. Medannya cukup berat dan tantangannya tidak jauh dari kotoran hewan.


"Sambil jinjit-jinjit nyingkiri (menghindari) kotoran hewan ternak," bebernya. Setelah agenda jimpitan keliling RT tuntas, berkumpul di pos kamling.


Kemudian dlosoran (terkapar) di papan pos ronda. Menikmati cemilan berupa gorengan dan krowotan adalah menu favorit. "Sambil mendengarkan radio, hasil jimpitan beras disimpan dan diserahkan kepada Pak RT," terangnya.


Setiap malam warga bergiliran ronda dan njimpit. Beras terkumpul dan ditimbang setiap satu bulan sekali pada saat kumpulan atau pertemuan RT. Setelah dirasa cukup, lantas dijual dan uangnya masuk kas RT. "Uang kas RT bisa digunakan untuk kegiatan sosial seperti menjenguk orang sakit dan yang lain," ucapnya.


Menurutnya, kegiatan jimpitan harus terus dilestarikan. Meskipun belakangan bukan njimpit beras, tapi uang koin, namun tujuannya sama. Semua warga dapat hidup rukun berdampingan. Situasi kampung pun mandaliyem alias aman terkendali ayem tenterem. 86 Ndan... (gun/laz/sat)

Editor : Satria Pradika
#jimpitan #Jogja